"Kalau kami terpaku pada tender gedungnya, nanti tidak akan jalan pekerjaan yang kami rencanakan. Maka sekarang ini ruang kosong di Bank Sampah itu kami manfaatkan untuk mulai menjalankan Magot Center ini," kata Kepala DLH Kota Mataram H Kemal Islam kepada Lombok Post, kemarin (11/7).
Pengoperasian Magot Center ini juga sebagai upaya untuk meminimalisir sampah organik yang ada di Kota Mataram. Apalagi pihak TPA Kebon Kongok saat ini sudah memperketat aturan pembungan sampah yang harus dipilah. Hal ini ternyata memberikan keuntungan kepada DLH Kota Mataram untuk menjalankan proyek Magot Center.
"Karena magot itu makanannya sampah organik," jelasnya.
Sehingga sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat tidak mesti dibuang ke TPA Kebon Kongok. Justru itu bisa diolah menjadi pakan magot. Sejak awal bulan ini, magot yang ada di Magot Center dikatakan Kemal sudah berkembang biak. Bahkan sudah ada yang siap jual. DLH juga telah berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang nantinya akan menyerap magot ini.
"Magot ini bisa jadi pakan ternak, ikan dan makanan burung. Harganya lebih murah dari pelet dan proteinnya lebih tinggi. Sudah ada beberapa pihak yang siap menyerapnya," akunya.
Untuk itu DLH Kota Mataram kini mencari dasar hukum agar hasil penjualan magot nantinya bisa disetorkan ke kas daerah. "Sambil tunggu pembangunan gedungnya, kami juga sudah siapkan tenaga ahli yang mengawal Magot Center ini," terang mantan Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Mataram ini.
Pantauan Lombok Post ke lokasi Bank Sampah Lisan di Kebon Talo, aktivitas para pekerja di sana memang sudah mulai sibuk. Baik yang mengolah sampah plastik maupun sampah organik memanfaatkan magot. Salah satu ruangan di Bank Sampah Lisan digunakan sebagai tempat budidaya magot.
Tenaga Ahli Mataram Magot Center Hadiansyah mengatakan pengoperasian di awal bulan ini sudah berhasil mengurangi sampah organik yang dibuang ke TPA Kebon Kongok. Mulai dari sampah pasar, rumah tangga, rumah makan dan perhotelan. "Untuk tahap awal sampah organik yang bisa diurai di Magot Center ini 300 sampai 500 kilogram," jelasnya.
Namun ke depan setelah gedung Magot Center dibangun dan fasilitas pendukungnya sudah disiapkan, maka sampah organik yang bisa diurai jauh lebih banyak. "Target kami ke depan berton-ton sampah organik akan diurai. Sekarang ini sudah berkembang biak dan ini akan menghasilkan Magot dan kasbot atau bekas Magot," sambung lulusan Universitas Pasundan Bandung tersebut.
Magot yang dihasilkan di sini akan menjadi pakan ternak. sementara kasgot akan menjadi pupuk. Nantinya Magot Center ini juga akan direplikasi untuk diterapkan di sejumlah kelurahan. Sehingga budidaya magot tidak hanya di lokasi Bank Sampah Lisan Kebon Talo tetapi tersebar di sejumlah titik. Otomatis akan semakin banyak sampah organik yang akan terurai. (ton/r3) Editor : Administrator