Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ancaman Gelombang Tahunan, Pesisir Barat Mataram Butuh Solusi Permanen

Administrator • Selasa, 27 Desember 2022 | 01:54 WIB
AKIBAT CUACA EKSTREM: Beberapa rumah rusak di Lingkungan Kampung Bugis, Ampenan, Kota Mataram, kemarin. Angin besar serta hantaman ombak tidak mampu ditahan beberapa bangunan di pinggir pantai ini.( IVAN/LOMBOK POST )
AKIBAT CUACA EKSTREM: Beberapa rumah rusak di Lingkungan Kampung Bugis, Ampenan, Kota Mataram, kemarin. Angin besar serta hantaman ombak tidak mampu ditahan beberapa bangunan di pinggir pantai ini.( IVAN/LOMBOK POST )
MATARAM-Pesisir Pantai Kota Mataram kembali porak poranda diterjang gelombang dua hari terakhir hingga kemarin (25/12). Mulai dari pesisir pantai wilayah Kecamatan Ampenan hingga Sekarbela, gelombang besar menerjang wilayah pesisir pantai hingga menyebabkan abrasi.

Bahkan, belasan rumah rusak parah akibat diterjang gelombang. Tak hanya itu, bangunan konservasi penyu yang ada di Pantai Mapak Indah juga rusak parah.

“Ada belasan rumah yang rusak di wilayah kami di Mapak Indah. Tumben tahun ini gelombangnya sangat besar menyebabkan abrasi cukup jauh sampai ke pemukiman warga,” ujar Ashari, salah satu warga Mapak Indah kepada Lombok Post.

Ia menuturkan, air laut masuk ke pemukiman warga saat tengah malam sekitar pukul 12.00 Wita. Air laut disertai gelombang tinggi ini menyebabkan abarasi. Membuat deretan rumah warga yang ada di Pondok Kapur Lingkungan Mapak Indah hancur seketika. Karena pondasi bangunan rumah di atas pasir ambles.

Akibatnya, warga berhamburan meninggalkan rumah dan membawa perabotannya. Mereka mengungsi ke rumah kerabatnya yang lebih aman. “Ini setiap tahun tejadi. Solusi jangka pendek tidak menyelesaikan masalah. Buktinya sekarang lebih banyak rumah yang rusak. Kami mohon ada solusi jangka panjang,” pintanya bersama warga lainnya.

Jika pemerintah daerah memang tidak memiliki anggaran, maka ia berharap mereka bisa meminta bantuan pemerintah pusat. Tidak membiarkan kondisi ini begitu saja dan membuat warga merasa was-was setiap tahun.

Untuk antisipasi bencana banjir rob susulan, warga secara swadaya gotong royong menumpuk batu sebagai penghalang ombak atau gelombang besar. Menghindari hal serupa kembali tejadi. Menyusul hujan angin masih menyelimuti Mataram dan sekitarnya dua hari terakhir.

Selain menerjang pemukiman warga dan merusak belasan rumah, ombak besar juga menyebabkan kerusakan pusat konservasi penyu di Pantai Mapak Indah. Bangunan konservasi hancur seketika disertai sejumlah lapak kuliner milik warga juga porak-poranda.

“Ini yang masih tersisa sekarang. Bangunannya rusak parah diterjang angin kencang dan gelombang yang menyebabkan pondasinya abrasi,” ujar pengelola Pantai Mapak Indah H Awan.

Pantauan Lombok Post, lantai, pondasi serta atap bangunan konservasi ini sudah rusak total. Hanya tersisa dua bak penangkaran yang berisi penyu kecil yang belum dilepas ke laut. Dengan kondisi saat ini, H Awan mengaku pusat wisata edukasi konservasi penyu terancam sudah tidak ada lagi di Kota Mataram.

“Makanya kami berharap ada bantuan nanti dari pemerintah provinsi maupun kota. Karena Bu Wakil Gubernur Hj Sitti Rohmi Djalillah dan Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman juga beberapa waktu lalu datang ke sini. Temasuk dari PLN NTB karena kan kami juga binaan dari program PLN Peduli,” harapnya.

Camat Sekarbela Cahaya Samudra mengatakan sesuai arahan wali kota untuk sementara warga pesisir diminta untuk menjauhi pantai dan mengungsi ke rumah keluarga. Khusus untuk warga di Pondok Kapur Lingkungan Mapak Indah, mereka mengungsi di masjid tua.

“Solusi jangka pendek (mencegah banjir rob) dibuatkan tanggul sementara dengan bambu dan karung pasir untuk mencegah abrasi lebih jauh lagi. Sementara solusi jangka panjang tentu perlu kajian teknis dari ahlinya. Apakah jeti break water, kemudian pemasangan bronjong atau seperti apa,” kata dia.

Camat mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepala BPBD dan Kepala Dinas PUPR Kota Mataram. Bahkan mereka bersama pihak BWS juga sudah turun menyusun langkah teknis penanganan jangka panjangnya seperti apa. Itu kemudian dilaporkan ke wali kota. Menyusul ada sekitar 13 unit rumah warga yang rusak parah.

“Delapan unit rumah rusak di Lingkungan Mapak Indah dan lima unit di Lingkungan Mapak Belatung Pantai Gading,” ujarnya.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Miftahurrahman memaparkan jika terjadi pergeseran garis pantai sampai tiga meter lebih mendekati rumah penduduk. Pihaknya sudah turun bersama BWS untuk mengecek langsung kondisi perubahan garis pantai di lapangan. “Solusi jangka pendek hasil diskusi  bersama BWS, PUPR dan BPBD, akan ada kolaborasi penanganan antara BWS dan Pemkot Mataram,” jelasnya.

Bentuk kolaborasinya, BWS akan membantu kawat bronjong di tiga lokasi penanganan. Mulai dari Pondok Perasi Kelurahan Bintaro, Pantai Pondok Kapur Mapak Indah dan Pantai Gading Mapak Belatung. Akan dipasang sekitar 3.000 kawat bronjong dan 10.000 karung besar oleh BWS. Sedangkan Pemkot akan mengupayakan melalui Dana BTT oleh BPBD untuk pembelian material batu dan pemasangannya.

“Untuk solusi jangka panjang, harus dilakukan secara permanen dan komperhensif dalam hal ini melalui BWS. Kaitannya rekayasa engineering pilihan konstruksi pemecah gelombang dengan melihat dan mempertimbangkan karakteristik pantai Kota Mataram sepanjang 9 kilometer,” urainya.

Hal ini tentu ini tidak sederhana dan membutuhkan anggaran besar dari BWS untuk penanganan jangka panjang. Gambaran secara lebih detail terhadap hal tersebut akan dikoordinasikan dengan BWS. (ton/r3) Editor : Administrator
#Gelombang Tinggi #rumah rusak #Mataram #Kampung BUgis Ampenan