Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eddy Martono Ungkap Strategi Baru Hadapi Tantangan Industri Sawit Dunia

Marthadi • Kamis, 13 November 2025 | 15:28 WIB

Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025. (Mifta/Radar Bali)
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025. (Mifta/Radar Bali)
LombokPost – Industri sawit nasional tengah berada di persimpangan penting. Dunia perdagangan yang cepat berubah, regulasi baru, dan tuntutan energi hijau kini menjadi faktor besar yang menentukan arah masa depan komoditas strategis ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menyampaikan strategi baru untuk menghadapi situasi tersebut dalam pembukaan 21st Indonesia Palm Oil Conference (IPOC 2025) di Bali International Convention Center, Kamis (13/11).

“Inilah strategi yang akan GAPKI terapkan,” ujar Eddy membuka pemaparannya di hadapan ribuan pelaku industri sawit dunia.

Optimisme Eddy didasari oleh kinerja positif industri sawit sepanjang Januari–September 2025.

Produksi nasional telah mencapai 43 juta ton, naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor menembus 25 juta ton, tumbuh 13,4 persen, dengan devisa mencapai USD 27,3 miliar atau naik 40 persen dari tahun lalu.

Konsumsi domestik juga meningkat menjadi 18,5 juta ton, menandakan pasar dalam negeri yang tetap kuat.

“Kinerja ini harus jadi wake up call agar industri semakin adaptif dan kompetitif,” tegasnya.

Menurut Eddy, ada tiga strategi besar yang harus dijalankan bersama untuk menjaga ketahanan industri sawit nasional.

Pertama, membaca arah kebijakan global. Eddy menilai kesepakatan Indonesia–EU CEPA membuka peluang besar untuk menembus pasar Eropa.

Namun, regulasi EU Deforestation Regulation (EUDR) menjadi tantangan yang tak bisa diabaikan.

“EUDR bukan sekadar aturan, tapi cermin sistem yang harus kita bangun,” katanya.

Kedua, memperkuat tata kelola industri melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). GAPKI ingin ISPO diakui dunia sebagai global gold standard.

“Sustainability adalah komitmen GAPKI, bukan slogan,” tegas Eddy.

Ketiga, memaksimalkan peluang energi hijau. Ia memuji kebijakan biofuel B35 dan B40 yang menciptakan permintaan domestik stabil sekaligus membantu menurunkan emisi nasional.

“Kita butuh mesin pemerintahan yang bekerja harmonis agar kebijakan energi ini berkelanjutan,” ujarnya.

Selain strategi makro, GAPKI juga menaruh perhatian besar pada petani dan generasi muda. Tahun ini, koperasi pekebun paling produktif berasal dari Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan capaian 37,4 ton TBS per hektare, naik 9 persen dari tahun lalu.

Inovasi juga hadir lewat National Palm Oil Hackathon 2025. Tim BiFlow dari ITS Surabaya keluar sebagai juara berkat teknologi RAPIDS, sistem berbasis machine learning untuk mendeteksi penyakit Ganoderma pada kelapa sawit.

Eddy turut memperkenalkan Elaeidobius Consortium, kolaborasi riset dengan Tanzania Agricultural Research Institute.

Program ini berfokus pada peningkatan penyerbukan alami melalui introduksi tiga spesies serangga penyerbuk untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang.

“Langkah-langkah ini menjadi fondasi menuju masa depan industri sawit yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Eddy. (*)

Editor : Marthadi
#industri sawit #Eddy Martono #gapki #ispo #IPOC 2025