Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Balas Serangan, 5 Pembangkit Listrik Utama Israel Jadi Target Potensial Serangan Iran

Redaksi Lombok Post • Rabu, 18 Maret 2026 | 08:44 WIB

DIBOMBARDIR: Jejak roket terlihat di langit di atas kota pesisir tengah Israel, Netanya, di tengah gempuran serangan rudal Iran, Rabu (11/3).
DIBOMBARDIR: Jejak roket terlihat di langit di atas kota pesisir tengah Israel, Netanya, di tengah gempuran serangan rudal Iran, Rabu (11/3).
LombokPost– Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu munculnya berbagai analisis strategis terkait target militer potensial. Sebanyak lima pembangkit listrik utama di wilayah Israel kini disebut-sebut menjadi sasaran potensial dalam kemungkinan serangan balasan oleh Iran.

Langkah ini mencuat menyusul adanya dugaan serangan terhadap fasilitas listrik di wilayah Lapangan Shohada, Teheran.

Sejumlah sumber strategis dilaporkan telah meninjau infrastruktur energi vital yang menopang lebih dari separuh kebutuhan listrik di wilayah tersebut.

Kantor berita Tasnim menyebut lima pembangkit Israel yang berpeluang jadi target serangan itu antara lain:

  1. Pembangkit Listrik Orot Rabin: Berlokasi di dekat Hadera dengan kapasitas raksasa sebesar 2.590 megawatt. Fasilitas yang berdiri sejak 1982 ini merupakan salah satu pembangkit uap terbesar milik Israel Electric Corporation.
  2. Pembangkit Listrik Rutenberg: Terletak di dekat Ashkelon dengan kapasitas 2.250 megawatt. Pembangkit yang dikelola negara ini telah beroperasi sejak tahun 1990.
  3. Pembangkit Listrik Hagit: Menggunakan sistem siklus gabungan dengan kapasitas 1.371 megawatt. Berlokasi di wilayah utara dekat Yokneam, fasilitas ini mulai beroperasi pada 2002.
  4. Pembangkit Listrik Eshkol: Fasilitas hibrida berkapasitas 912 megawatt yang terletak di dekat Ashdod dan telah melayani kebutuhan energi sejak 1974.
  5. Pembangkit Listrik Haruvit (Tzafit): Pembangkit swasta milik Dalia Power Energies dengan kapasitas 900 megawatt di dekat Kiryat Malakhi yang beroperasi sejak 2015.

Kelima pembangkit tersebut diketahui menyumbang lebih dari 50 persen total produksi listrik di seluruh wilayah. Para analis memperingatkan bahwa gangguan sekecil apa pun terhadap aktivitas di titik-titik ini akan memberikan tekanan hebat pada seluruh jaringan listrik.

Kendati demikian, para ahli menekankan pentingnya penilaian mendalam dari berbagai aspek sebelum langkah militer diambil. Perlu adanya evaluasi matang terkait aspek teknis, ekonomi, dan keamanan dari setiap respons yang akan diberikan dalam menangani masalah tersebut.

Situasi ini semakin mempertegas betapa rentannya sektor energi dalam konflik asimetris, di mana infrastruktur sipil yang vital sering kali masuk ke dalam perhitungan strategis militer kedua belah pihak.

Editor : Redaksi Lombok Post
#Israel #amerika #iran #pembangkit listrik