
LombokPost - Hingga Ahad (26/4) pukul 18.00 WIB, sebanyak 1.945 jamaah calon haji (JCH) NTB telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Mereka didampingi 20 petugas sehingga total keseluruhan mencapai 1.965 orang.
“Seluruh kursi penerbangan terisi penuh tanpa adanya open seat,” terang Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB Lalu Muhamad Amin, tadi malam (27/4).
Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram terus melakukan pemantauan intensif, terhadap kondisi kesehatan JCH asal NTB yang kini berada di Madinah.
Memasuki fase awal ibadah, faktor kelelahan dan adaptasi lingkungan menjadi tantangan utama bagi para jamaah, khususnya lansia.
Ketua Tim Kerja 4 BKK Kelas 1 Mataram dr Ferry Wardhana mengungkapkan saat ini risiko kesehatan yang paling banyak ditemui pada lima kloter awal adalah kelelahan fisik.
Hal ini diperparah oleh keinginan jamaah untuk mengejar ibadah Arbain, tanpa mengukur kemampuan tubuh. “Risiko kesehatan banyak muncul saat tiba karena kelelahan, ditambah keinginan mengejar Arbain,” jelasnya.
Baca Juga: 70 Persen Jamaah Haji Mataram Masuk Kategori Risti, Dikes Perketat Pengawalan Medis dan Obat-obatan
Selain itu, banyak jamaah yang merasa kurang sehat karena tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan, mengingat perbedaan menu antara di Lombok dan di Madinah.
Ferry juga menyoroti fenomena jamaah lansia yang mulai mengalami kebingungan. Perubahan lingkungan yang drastis serta kerumunan massa yang besar membuat banyak jamaah lansia kehilangan arah hingga tersesat.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan murni demensia, melainkan penurunan kognitif yang dipicu oleh faktor usia, kelelahan, dan penyakit penyerta (komorbid).
Penurunan kognitif ini sering diperburuk oleh penyakit komorbid seperti hipertensi atau diabetes. Bahkan, dr Ferry mencatat adanya insiden jamaah yang terjebak di dalam lift karena belum terbiasa menggunakan fasilitas teknologi tersebut di hotel tempat mereka menginap.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




