Refleksi 386 Tahun Bima, Menakar Nilai Maja Labo Dahu di Tengah Arus Pembangunan Modern

Premis inilah yang melandasi Upacara Peringatan Hari Jadi ke-386 Kabupaten Bima yang digelar khidmat di halaman Kantor Bupati Bima, Minggu (5/7).
Mengusung tema “386 Tahun Bersatu dalam Harmoni”, momentum sejarah ini menjadi panggung penegasan kembali bahwa kemajuan hakiki Dana Mbojo tidak boleh hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik. Fondasi utama kemajuan Bima justru bertumpu pada ketahanan nilai-nilai kultural, spiritualitas, dan tenunan persatuan yang kokoh.
Peringatan HUT Peringatan Hari Jadi ke-386 Kabupaten Bima dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri. Tokoh yang akrab disapa Ummi Dinda ini menegaskan dukungan penuh dari pemerintah provinsi agar estafet kepemimpinan Kabupaten Bima saat ini mampu mengejar target-target pembangunan strategis.
“Semoga momentum ini menjadi energi baru bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus mendorong kemajuan daerah di bawah kepemimpinan yang ada saat ini, demi kesejahteraan masyarakat Dana Mbojo,” ungkap Wagub NTB.
Sementra itu dalam pidatonya, Bupati Bima Ady Mahyudi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menundukkan hati dan merefleksikan kembali tetesan keringat serta air mata para pendahulu yang telah meletakkan batu pertama peradaban di tanah Bima.
“Hari ini adalah saat yang tepat untuk menoleh ke belakang, merenungkan perjalanan panjang yang penuh dengan kisah perjuangan, pengorbanan, dan kebijaksanaan para pendahulu kita,” ujar Ady Mahyudi.
Menurutnya, benturan zaman dan dinamika sejarah panjang telah membentuk DNA masyarakat Bima menjadi entitas yang tangguh, religius, sekaligus adaptif. Karakter ini membuat manusia Bima mampu berdansa dengan perubahan zaman tanpa harus kehilangan identitas diri dan nilai-nilai Islam yang menjadi kompas moral kehidupan.
Menghadapi tantangan modernisasi yang kian kompleks, Bupati menegaskan bahwa narasi pembangunan tidak bisa lagi digerakkan secara tunggal oleh pemerintah. Keberhasilan hanya dapat dijemput melalui kerja sama multisektoral yang setara dan inklusif.
Ia menyerukan konsolidasi besar-besaran yang melibatkan penegak hukum (Forkopimda), parlemen (DPRD), dunia usaha, kaum akademisi, hingga simpul-simpul kultural seperti tokoh adat, tokoh agama, kelompok perempuan, dan pemuda. Semua elemen ini dipanggil untuk berjalan beriringan dan meruntuhkan ego sektoral demi satu tujuan yakni kesejahteraan rakyat.
Di penghujung refleksi tiga abad lebih berdirinya Bima, satu pesan krusial kembali digaungkan: revitalisasi falsafah Maja Labo Dahu. Nilai luhur yang mengakar pada rasa malu untuk berbuat salah (maja) dan rasa takut kepada Tuhan (dahu) bukan lagi sekadar slogan masa lalu.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




