
LombokPost-Musim kemarau yang membuat vegetasi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), semakin kering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kondisi ini ya tentu mendorong perlunya kesiapsiagaan bersama, termasuk dari para pelaku wisata pendakian,” terang Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan, Selasa (8/9).
Upaya mitigasi karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas. Trekking Organizer (TO), guide, dan porter yang mendampingi wisatawan juga memiliki peran penting dalam menjaga keamanan kawasan selama perjalanan.
Baca Juga: Kasus Karhutla Seret 112 Tersangka, Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan Korporasi
Salah satu bentuk kesiapsiagaan yang dilakukan sejumlah TO yakni membekali guide dan porter dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Peralatan tersebut disiapkan untuk mengantisipasi apabila muncul api selama aktivitas pendakian. “APAR bukan sekadar perlengkapan tambahan,” ujar Budhy.
Menurutnya, keberadaan APAR menjadi bagian dari kesiapsiagaan sekaligus bentuk kepedulian, dan tanggung jawab bersama terhadap kelestarian kawasan Rinjani.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Inisiatif para TO, guide, porter, dan pihak lain yang turut mengambil peran dalam mitigasi karhutla juga mendapat apresiasi dari Balai TNGR.
“Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran, terutama saat kondisi vegetasi semakin kering,” jelasnya.
Budhy menekankan, aktivitas wisata di Rinjani semestinya tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan pendakian.
Setiap orang yang memasuki kawasan tersebut juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam yang menjadi bagian penting dari perjalanan. “Bukan sekadar membawa pendaki, tapi ikut menjaga Rinjani,” tegasnya.
Karena itu, kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla perlu menjadi bagian dari setiap perjalanan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




