
LombokPost-Keterbatasan pakan dan air saat kemarau, minimnya pejantan unggul, hingga rendahnya tingkat kesuburan sapi hasil persilangan menjadi persoalan yang ditemukan dalam penyusunan Grand Design Sapi Potong NTB.
“Kami memetakan persoalan tersebut melalui kunjungan lapangan, sebagai dasar merumuskan kebijakan peternakan yang lebih tepat sasaran,” jelas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Muhamad Riadi.
Kunjungan lapangan dilakukan bersama dengan tim ahli gubernur, dan akademisi Universitas Mataram (Unram) yang melihat langsung kondisi peternakan di Sumbawa Barat, Sumbawa, serta sejumlah desa potensial di Bima.
Baca Juga: Pathul-Nursiah Dorong Peternak Lokal Naik Kelas, Perdana Gelar Kontes Sapi Lombok 2026
Kegiatan diawali pada Sabtu (17/10), tim gabungan meninjau sejumlah desa, yakni Belo di Kecamatan Palibelo, Rabakodo di Kecamatan Woha, serta Mpuri dan Bolo di Kecamatan Madapangga.
Kunjungan dilakukan untuk menilai kondisi lahan, aksesibilitas, sumber air, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.
“Kawasan pembibitan diharapkan dapat dikembangkan secara terstruktur, untuk menghasilkan bibit sapi potong berkualitas,” jelasnya.
Upaya ini juga memerlukan sinergi dengan pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat populasi ternak, dan mendukung kesejahteraan peternak.
Selanjutnya, turun ke Sumbawa Barat pada Rabu (21/10). Kunjungan itu melihat langsung kondisi kelompok peternak. Di Kelompok Lang Glampok, Desa Beru, Kecamatan Jereweh, tim menemukan persoalan ketersediaan pakan hijauan dan air saat musim kemarau.
Kelompok pembibitan yang beranggotakan 15 orang tersebut memelihara sekitar 300 ekor sapi. Kekurangan pakan dan air berpotensi mengganggu produktivitas sekaligus kesehatan ternak.
Persoalan berbeda, kata Riadi, ditemukan di Kelompok Budi Sari, Desa Kokarlian, Kecamatan Poto Tano yang dipimpin I Nengah Penre.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




