Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Buku Two Islands, One Thread, Merawat Warisan Wastra Lombok dan Menguatkan Diplomasi Budaya

Y
Penulis: Yuyun Kutari❯
Suasana peluncuran Buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections di Bale Kita, Mataram, Kamis (29/10). (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST)
Suasana peluncuran Buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections di Bale Kita, Mataram, Kamis (29/10). (BIRO UMUM DAN ADPIM SETDA NTB FOR LOMBOK POST)

Advertisement

LombokPost-Pemprov NTB melalui UPTD Museum Negeri NTB meluncurkan buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections di Bale Kita, Mataram, Kamis (29/10).

Buku ini menjadi referensi untuk mengenalkan kekayaan tekstil tradisional Lombok, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia dan Australia. 

Kepala UPTD Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam mengatakan, peluncuran buku tersebut menjadi simbol bahwa kebudayaan tidak terbatas pada satu daerah, melainkan berkaitan dengan kemanusiaan dan peradaban. 

Advertisement

“Peluncuran buku ini menjadi simbol bahwa kebudayaan itu tidak hanya berbicara tentang satu daerah atau satu skup saja, namun kebudayaan berbicara tentang kemanusiaan dan peradaban manusia,” jelasnya.

Adapun peluncuran buku Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections di Bale Kita, Mataram, merupakan kegiatan peluncuran kedua setelah buku tersebut diperkenalkan dalam simposium internasional di Radford Auditorium Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, Australia, pada pertengahan September lalu. 

Advertisement

Dalam simposium tersebut, sejumlah penulis yang berkontribusi dalam buku mempresentasikan tulisan mereka secara langsung di hadapan peserta. Kegiatan itu sekaligus membuka ruang dialog mengenai cara menjaga tradisi lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Buku Two Islands, One Thread melibatkan 18 akademisi dan praktisi budaya, dengan 11 di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka mengkaji tekstil tradisional Lombok dan Bali dengan menempatkan suara penenun, pewarna, serta ahli ritual sebagai bagian utama pembahasan.

Sehingga Nuralam memandang, buku tersebut tidak hanya menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya, tetapi juga membuka akses pengetahuan tentang tekstil tradisional Lombok bagi masyarakat luas.

Buku dapat dimanfaatkan masyarakat, wisatawan, maupun mahasiswa yang membutuhkan referensi mengenai kain tradisional Lombok.

Keberadaan buku tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih jauh kekayaan wastra Lombok, termasuk nilai budaya yang melekat pada tekstil tradisional daerah tersebut. 

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Liputan
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dekranasda NTB Tampilkan Uma Lenga di Kriyanusa 2026

Dekranasda NTB Tampilkan Uma Lenga di Kriyanusa 2026

Dekranasda NTB tampilkan Uma Lengge dan tenun Muna Pa’a Dompu di Kriyanusa 2026, angkat budaya dan produk kriya lokal ke pasar nasional.

Ketua Dekranasda Bunda Sinta Apresiasi Generasi Muda Pringgasela, Menenun Masa Depan Warisan Budaya Lotim

Ketua Dekranasda Bunda Sinta Apresiasi Generasi Muda Pringgasela, Menenun Masa Depan Warisan Budaya Lotim

Tradisi Tumbuh Mengikuti Zaman tanpa Kehilangan Akar Budaya. Bunda Sinta menegaskan, Dekranasda NTB siap memperkuat kolaborasi.

Dekranasda NTB Dorong Tenun Jadi Industri Kreatif Berdaya Saing

Dekranasda NTB Dorong Tenun Jadi Industri Kreatif Berdaya Saing

Langkah anak muda Pringgasela merawat tradisi tenun mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB Sinta Aga

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer