LOMBOKPOST-Jelang perayaan hari besar keagamaan Iduladha, gejolak harga beras masih menjadi kekhawatiran. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin meminta Pemprov NTB untuk mengantisipasi dan berupaya agar harganya tidak semakin merangkak naik.
“Kalau saya lihat dari sisi perkembangan harga ya, harga beras ini mulai beranjak naik nih,” ujarnya, saat ditemui, Selasa (11/6).
Situasi ini harus menjadi atensi, karena beras merupakan faktor utama yang menjadi penyebab, harga komoditas lain ikut mengalami kenaikan. Di samping itu, gejolak harga beras akan berpengaruh terhadap angka inflasi di Bumi Gora.
“Gejolak harga beras itu akan menentukan gejolak inflasi kita, naik harga beras berarti naik inflasi, kalau turun ya bisa deflasi,” tegasnya.
PJ Sekda NTB Ibnu Salim mengatakan bahwa penganan inflasi daerah merupakan program yang sangat penting, sehingga diharapkan komitmen dan konsistensi dari seluruh Kabupaten/Kota.
“Komitmen itu yang paling penting, harus konsisten dengan komitmen yang dipegang, jangan sampai setelah rakor diabaikan, tetapi harus setiap saat untuk dapat memanfaatkan momentum setiap hari untuk sama - sama bekerja keras menekan inflasi,” jelasnya.
Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi NTB H Wirajaya Kusuma mengatakan bahwa barometer inflasi di NTB ada pada Kota Mataram, Kota Bima dan Kabupaten Sumbawa.
“Alhamdulillah, Kabupaten Sumbawa berhasil menjadi kontributor paling redah angka inflasinya sebesar 2,19 persen, sementara Kota Mataram sebesar 3,18 persen dan Kota Bima sebesar 2,91 persen," jelasnya.
Adapun data ketersediaan pangan strategis menjelang Iduladha tahun 2024 dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB, yaitu beras 272,6 ton, jagung 59,8 ton, daging sapi 1,972 ton, daging ayam 6,863 ton, telur ayam 7,355 ton, minyak goreng 5,211 ton, gula pasir 3,763 ton, cabe rawit 2,126 ton, cabe besar 1,889 ton, bawang merah s29,896 ton, bawang putih 1,199 ton dan kedelai sebanyak 1,826 ton.
“Ini ketersediaan stok komoditas pangan, semuanya cukup di pasaran, masyarakat jadi bisa membeli dengan aman, nyaman dan mudah,” kata dia.
Sementara di singgung perihal harga, tidak bisa dipungkiri ada hukum pasar yang menyertainya. Ketika permintaan meningkat, maka akan mendorong meningkatnya penawaran sehingga menyebabkan harga komoditas tersebut cenderung mengalami kenaikan. “Apalagi di hari besar keagamaan ini, kami prediksi ini bisa terjadi,” ujar Wirajaya.
Karenanya, pemprov telah menginstruksikan masing-masing Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar terus memonitor kondisi lapangan, agar harga jual dapat dijangkau oleh masyarakat. “Walaupun harga meningkat, harus dengan batas yang wajar,” tegasnya.
Adapun situasi harga rata-rata bahan pokok per kilogram (kg) di 10 kabupaten/kota, yang dirilis Dinas Perdagangan (Disdag) NTB per 11 Juni, beras medium 13 ribu, beras premium Rp 15 ribu, jagung pipilan Rp 9.750 daging sapi Rp 120 ribu, daging ayam ras Rp 41 ribu, telur ayam Rp 30,616, minyak goreng Rp 16.500, gula pasir Rp 19 ribu, cabe rawit Rp 38 ribu, cabe besar Rp 43 ribu ton, bawang merah Rp 36 ribu, bawang putih Rp 42 ribu dan kedelai Rp 16 ribu. (yun)
Editor : Redaksi Lombok Post