
LombokPost - Menjelang Hari Pendidikan Nasional, alangkah baiknya jika sejenak memikirkan tentang relevansi pendidikan saat ini melalui pemikiran-pemikiran tokoh pendidikan dunia yang menjadi rujukan dalam berbagai diskursus terkait bentuk penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia.
Salah satunya pemikiran dari Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil.
Pemikirannya yang dituangkan dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Opressed) menjadi rujukan dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial abad ke 20.
Baca Juga: Tes Kemampuan Akademik dalam Arsitektur Pemetaan Pendidikan Nasional
Paulo Freire memperjuangkan “Pendidikan yang Membebaskan” dengan anggapan bahwa pendidikan menjadi alat legal untuk melakukan penindasan terhadap suatu kaum. Pendidikan saat itu baginya tidak menjadi jalan keluar untuk mengangkat derajat manusia, namun menjadi jembatan untuk melanjutkan ketimpangan yang sejak lama telah berlangsung.
Bagi saya pribadi, pemikiran Paulo Freire terasa begitu dekat dan relevan ketika kita meneropong realitas pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi ini menyimpan paradoks yang cukup tajam, satu sisi NTB memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang melimpah, namun pada sisi lain angka putus sekolah, pernikahan dini, kemiskinan, dan ketertinggalan pendidikan masih menjadi tantangan besar yang belum tuntas diselesaikan.
Realitas ini bukan semata persoalan teknis pengelolaan pendidikan, melainkan cerminan dari apa yang Paulo Freire sebut sebagai situasi “kaum tertindas” yang terjebak dalam struktur ketimpangan turun temurun.
Pendidikan Gaya Bank
Paulo Freire mengkritisi pendidikan konvensional sebagai “pendidikan gaya bank” di mana guru subjek yang menyimpan pengetahuan (nasabah), pengetahuan adalah barang mati yang dipindahkan, bukan diciptakan, serta murid sebagai objek pasif yang terus diisi (rekening tabungan) dengan rutinitas berfokus pada mengulang dan menghafal sehingga murid tidak mampu berpikir kritis.
Jika Freire mengkritik pendidikan gaya bank yang menjadikan murid sebagai wadah pasif, fenomena serupa dengan mudah dapat ditemukan di banyak ruang kelas di NTB.
Baca Juga: Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Hamzanwadi Raih Medali Perak di Lomba Esai Nasional
Model pembelajaran yang mendominasi masih berpusat pada hafalan dan bentuk ujian terstandar. Siswa di sekolah pedesaan Lombok Timur atau Dompu, misalnya, setiap hari menerima materi dari buku paket nasional yang jauh dari konteks kehidupan mereka.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




