Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Messi, Mohan dan Seni Memimpin dari Hati

N
Penulis: Nurul Hidayati❯
M.Ramadhani
M.Ramadhani

Advertisement

Advertisement

Advertisement

LombokPost - Ahad, 19 Juli 2026, 04.30 wita, sekitar 22 Jam menuju Partai Final World Cup 2026. Saat ketika membuka laptop untuk memulai tulisan ini adalah pada saat penulis menanti kick off partai puncak World Cup 2026: Argentina versus Spanyol. Sebuah Final ideal. Semua orang sibuk dengan analisisnya masing masing. Bagi yang jagoannya sudah gugur, sabagai pengalihannya kemungkinan yang penting bukan Argentina. Saatnya Messi anti klimak. Bagi pendukung Argentina dari awal, tentu sangat berharap ini menjadi legacy terbaik bagi Messi di ajang World Cup terakhirnya. 

Memang agak dilematis, apakah menulis sambil berkeyakinan dengan insting dan yakin Argentina dengan Lionel Messi yang akan mengangkat Trophy juara atau harus menunggu hasil pertandingan. Semua ada plus minusnya, ada resikonya. Tapi ide dan momentum kadang tidak datang berulang kali. Bagi penulis, mengambil kesimpulan tentang seorang Messi dari satu pertandingan tentu tidak fair. Dari sekian 207 cap nya bersama Argentina dan perannya sejauh ini terhadap tim dengan 125 gol, 18 gol diantaranya di ajang World Cup. Akhirnya penulis mengambil keputusan: Argentina juara atau tidak, Messi tersenyum atau menangis di Senin pagi esok, Messi tetaplah seorang Pahlawan bagi timnas Argentina, bahkan disebut dalam tulisan sebelumnya, Messi adalah Pemimpin setengah Dewa untuk semua rakyat Argentina dalam konteks Sepakbola. 

Pada saat yang hampir bersamaan, penulis sedang mengedit rilis sebuah berita. Bahwa Walikota Mataram, diundang untuk meraih penghargaan yang tidak disangka-sangka sebelumnya. H. Mohan Roliskana (selanjutnya penulis singkat dengan Mohan), menerima Indonesian Public Service Excellence Award (IPSEA) 2026 yang diselenggarakan Seven Media Asia di Platinum Hotel Jimbaran Beach, Bali, Jumat (17/7/2026). Pada ajang tersebut, Mohan meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Best Regional Leader for Public Service Excellence, Creative Finance, and Cultural Advancement serta Excellence in Creative Fiscal Management, Cultural Advancement, and Integrated Public Service. Penghargaan tersebut bukan diberikan karena satu program yang populer atau satu inovasi yang viral. Dewan juri melakukan penilaian secara menyeluruh melalui rekam jejak kepemimpinan, inovasi pelayanan publik, transformasi digital, pengelolaan fiskal, pemberitaan media massa, hingga persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan pemerintah daerah. Dalam keterangan resminya, penyelenggara menyebutkan bahwa IPSEA dirancang sebagai bentuk apresiasi kepada kepala daerah yang mampu membangun pelayanan publik secara berkelanjutan melalui kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang adaptif, dan inovasi yang berdampak nyata.

Dari dua peristiwa yang secara bersamaan, maka lahirlah inspirasi judul diatas. Tentu boleh jadi ada yang berkomentar agak lebay membandingkan Messi dengan Mohan. Beda level. Beda profesi. Penulis melihat dan membandingkan dari perpektif seni kepemimpinan, karena kebetulan tengah mengikuti Diklat Kepemimpinan. Dari Messi ke Mohan: Dari Lapangan Hijau Sepakbola ke Lapangan Pelayanan Publik di Pemerintahan. Setiap kali menonton Lionel Messi bermain, dan setiap hari bekerja mendampingi Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, penulis melihat pola yang sama. Pola kepemimpinan yang tidak diajarkan di buku manajemen, tapi tampak di depan mata dan terasa di hati: kepemimpinan kharismatik yang lahir dari intuisi, hati nurani, dan ketulusan.

Sebagai peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II yang diajarkan teori tentang Self Mastery, Kepemimpinan Srategis dan Manajemen Strategi, serta sebagai pengampu komunikasi publik, penulis belajar bahwa memimpin bukan soal paling keras berteriak di ruang rapat. Memimpin adalah soal "membuat orang mau mengikuti, bahkan saat keadaan 0-1 di babak semifinal Lionel Messi bukan kapten yang teriak-teriak di pinggir lapangan. Ia pendiam. Tapi ketika ia pegang bola, 10 pemain lain dan 45 juta rakyat Argentina percaya: "Bola aman di kakinya".

Pun Mohan di Pemerintah Kota Mataram. Beliau bukan tipe pemimpin yang gemar pencitraan yang berlebihan. Kharismanya lahir dari konsistensi. Saat banjir melanda, beliau turun ke sungai menghalau sampah yang menghambat laju air. Saat jalanan macet akibat trafict light padam, beliau turun mengurai lalu lintas. Saat sampah menumpuk di jalan jalan kota akibat TPA di tutup, Mohan ambil keputusan berani, alihkan sementara sampah di tanah kosong dalam kota yang belum terpakai. Saat ada aduan warga di media sosial tengah malam, Mohan minta Kadis untuk segera merespons. Dalam teori kepemimpinan, ini disebut "Referent Power" - sebuah kekuatan dikagumi bukan karena jabatan, warga kota Mataram mengikuti bukan karena takut, tetapi tumbuh dari rasa percaya (trush). 

Belajar dari seorang Messi: Kharisma bukan dibangun dari mikrofon. Kharisma dibangun dari "jejak". Dari ribuan dribble, ribuan assist, ribuan keputusan kecil yang benar. Sama seperti Walikota membangun kepercayaan dari ribuan keputusan kecil: menyiapkan taman untuk warga kota, menyapa para PKL, memperhatikan penyapu jalan, sampai kebijakan komunikasi publik yang transparan.

Mungkin kita masih ingat Final World Cup 2022. Saat itu dimenit 108, di masa ekstra time. Skor sama kuat: 3-3. Semua orang tegang. Messi tidak menunggu instruksi pelatih. Dengan instingnya ia menusuk, dan nalurinya membaca ruang kosong.

Itu bukan taktik di papan tulis. Itu intuisi 20 tahun di lapangan. Penulis beberapa kali menyaksikan hal yang mirip di Kantor Walikota di saat bersama seorang Mohan. Dalam beberapa keputusan Mohan mengambil keputusan tidak semata mata dari data diatas kertas. Tetapi menggunakan intuisinya atau "Intuitive Decision Making". 

Ia pakai data ditambah pengalaman, serta satu lagi: hati nurani. Data adalah kompas. Tapi intuisi adalah kemudi. Tanpa kemudi, kompas hanya membuat kita berputar. Walikota mengajarkan: keputusan yang benar belum tentu populer. Tapi keputusan yang tulus akan selalu bisa dipertanggungjawabkan. Sama seperti Messi yang berani ambil penalti di final, walau risiko jika gagal, akan dicaci se Antero Argentina.

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post Online
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Empat OPD Rapor Merah, Wali Kota Mohan: Harus Keluar dari Zona Nyaman

Empat OPD Rapor Merah, Wali Kota Mohan: Harus Keluar dari Zona Nyaman

Adapun keempat OPD yang capaian targetnya masih berada di bawah performa tersebut adalah Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perdagangan, Di

Wali Kota Mohan Roliskana Nobar Piala Dunia 2026 Bersama Warga di RTH Pagutan

Wali Kota Mohan Roliskana Nobar Piala Dunia 2026 Bersama Warga di RTH Pagutan

Ratusan Warga Padati RTH Pagutan! Wali Kota Mohan Roliskana Pimpin Nobar Perempat Final Piala Dunia 2026 Argentina vs Swiss.

Wali Kota Mataram Mohan Ajak Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Bangun Semangat dan Percaya Diri Sejak Dini

Wali Kota Mataram Mohan Ajak Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Bangun Semangat dan Percaya Diri Sejak Dini

Mohan Roliskana mengajak ayah di Kota Mataram ikut Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah demi membangun semangat dan percaya diri anak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer