
LombokPost - Ketika listrik menyala, kita mungkin tidak banyak bertanya dari mana energi itu berasal. Kita menyalakan lampu, mengisi daya telepon genggam, memasak, bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Listrik telah menjadi bagian yang begitu dekat dengan hidup kita, sampai terkadang kita lupa bahwa di balik setiap energi yang kita gunakan, ada sumber daya alam, proses produksi, dan kehidupan masyarakat yang mungkin ikut terdampak.
Karena itu, memperingati Hari Listrik Nasional seharusnya tidak hanya menjadi perayaan tentang semakin luasnya akses listrik atau kemajuan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Lebih dari itu, momentum ini perlu mengajak kita bertanya: apakah listrik yang kita nikmati hari ini benar-benar membawa kesejahteraan bagi semua, atau justru ada masyarakat yang harus menanggung kerusakan lingkungan dan ketimpangan agar sebagian orang dapat menikmati terang?
Pertanyaan ini penting karena listrik bukan sekadar persoalan teknis. Ia berkaitan dengan bagaimana negara mengelola sumber daya alam, menentukan arah pembangunan, melindungi ruang hidup masyarakat, dan memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dinikmati secara adil.
Jangan sampai terang bagi sebagian orang, menjadi beban bagi yang lain
Transisi energi sering kali dibicarakan sebagai upaya mengubah sumber energi fosil menuju energi yang lebih bersih dan terbarukan. Perubahan ini memang penting untuk menjawab krisis iklim dan membangun sistem energi yang lebih berkelanjutan. Tapi, kita perlu mengingat bahwa mengganti sumber energi saja belum tentu berarti kita telah menghadirkan keadilan.
Pembangunan energi terbarukan pun tetap harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, ruang hidup, dan penghidupan masyarakat. Jangan sampai atas nama energi bersih, masyarakat kehilangan lahan, akses terhadap sumber air, ruang kelola, atau sumber penghidupan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Kita juga tidak boleh membiarkan transisi energi menambah lapisan ketimpangan yang sudah dirasakan oleh perempuan, teman-teman penyandang disabilitas, masyarakat berpenghasilan rendah, masyarakat di wilayah terpencil, serta kelompok lain yang kerap tidak memiliki cukup ruang untuk menyampaikan suaranya.
Bagi hampir sebagian besar perempuan, persoalan energi berkaitan langsung dengan pekerjaan domestik, kesehatan keluarga, biaya hidup, dan kesempatan untuk mengembangkan usaha. Ketika akses energi tidak terjangkau dan sulit diakses, beban yang mereka tanggung bisa semakin berat. Pada saat yang sama, ketika proyek energi dibangun tanpa melibatkan perempuan secara bermakna, kebutuhan dan pengetahuan mereka berisiko tidak masuk dalam perencanaan yang kemudian melahirkan ketimpangan yang lebih besar.
Bagi teman-teman disabilitas, akses energi yang andal dan terjangkau juga berkaitan dengan kemandirian, akses informasi, penggunaan alat bantu, serta keberlangsungan berbagai layanan yang mereka butuhkan. Ketika listrik tidak tersedia secara memadai, atau fasilitas dan informasi terkait program energi tidak bisa diakses, dampaknya bisa jauh lebih besar bagi mereka yang sudah menghadapi hambatan dalam kehidupan sehari-hari.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




