Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Rury Anjas Andita • Jumat, 6 Oktober 2023 | 10:10 WIB
TGH Muharrar Iqbal
TGH Muharrar Iqbal

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya.” (HR. Bukhari)

--------

ISTILAH maulid berasal dari bahasa Arab yang berarti lahir. Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu tradisi yang berkembang setelah Nabi SAW wafat. Peringatan maulid Nabi SAW merupakan suatu wujud ungkapan rasa syukur dan kegembiraan serta penghormatan kepada Rasulullah SAW karena berkat jasa dan pengorbanan beliau, alhamdulillah ajaran agama Islam sampai kepada kita.

Di beberapa tempat saya melihat perayaan maulid Nabi SAW merupakan ekspresi rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW. Karena sejatinya substansi dari peringatan maulid Nabi adalah mengukuhkan komitmen loyalitas pada diri Nabi Muhammad SAW. Untuk itu, ada beberapa hikmah dari perayaan maulid yang dapat kita saripatikan. Di antaranya; 

Pelaksanaan peringatan maulid Nabi SAW mengajak umat untuk terus membaca selawat. Berselawat kepada Nabi diperintahkan oleh Allah Taala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).

Memperingati maulid Nabi SAW merupakan ekspresi kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Orang yang ingkar kepada Allah saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu). Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, apalagi anugerah Allah bagi umatnya yang beriman dan bertakwa.

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan istri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Rasulullah bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya.” (HR. Bukhari).

Menjadikan perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW sebagai qudwah hasanah dalam setiap gerak kehidupan kita. Allah SWT bersabda: Kita tanamkan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Tanamkan pula keteladanan terhadap Rasul ini pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya.

Melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah dan juga para Nabi. Sesaat sebelum menghembuskan napas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini. Beliau bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam.” (HR. Malik).

Jadi, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, jika dilaksanakan dengan baik dan penuh adab tentu akan memiliki dampak yang baik terhadap tumbuh kembangnya rasa cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai orang tua, tugas kita memperbanyak kisah-kisah teladan tentang kepribadian Nabi Muhammad sehingga tercipta militansi yang kuat kepada generasi setelahnya tetang sosok seorang tokoh yang melegenda sepanjang masa. Pemberi syafaat dan penyayang ummatnya. Wallohu alam bishshawab. (*)

Editor : Rury Anjas Andita
#maulid #TGH Muharrar Iqbal #nabi muhammad saw