Oleh: Jannus TH Siahaan
(Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran, Peneliti, dan Konsultan)
LombokPost--Banyak hal baru yang diperkenalkan oleh Gubernur baru NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, yang kurang disadari oleh publik NTB sebagai terobosan luar biasa untuk masa depan Bumi Gora.
Selain rencana strategisnya untuk menyederhanakan birokrasi daerah agar tidak menjadi “toxic” bagi kapasitas fiskal NTB, Lalu Iqbal juga membawa ilmu pengetahuan ke dalam ranah yang lebih luas (next level) di satu sisi dan menghadirkan local capital venture yang akan menjadi salah satu instrumen untuk mewujudkan apa yang telah dikerjakan oleh ilmu pengetahuan tersebut nantinya untuk NTB di sisi yang lain.
Salah satu yang saya amati selama ini dari seorang Lalu Iqbal adalah kepercayaannya yang cukup tinggi kepada kontribusi kerja ilmiah ( scientific approach ) di dalam kebijakan-kebijakan daerah.
Dengan kata lain, saya ingin mengatakan bahwa hal positif dan menarik dari seorang Gubernur Dr. Lalu Muhamad Iqbal adalah bahwa ia sangat percaya dengan peran ilmu pengetahuan di dalam pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan publik di daerah, karena hal tersebut memang telah terbukti efektif di mana pun di dunia ini.
Baca Juga: Eduardo Perez Masuk Bursa Pelatih Persebaya Surabaya, Pengganti Paul Munster Segera Diumumkan
Ilmu pengetahuan memang semestinya menjadi salah satu andalan para penguasa di dalam mewujudkan visi misinya, bukan malah mengesampingkannya atas nama kepentingan politik atau bahkan malah menyubordinasi ilmu pengetahuan hanya sebagai sekrup dan baut dari tujuan kekuasaan.
Secara kasat mata hal tersebut beberapa kali beliau perlihatkan dan sampaikan kepada publik NTB sejak pertama kali menjabat sebagai Gubernur NTB demikian pula kepada saya secara pribadi.
Lihat saja, baru-baru ini, Lalu Iqbal mendorong secara serius keterlibatan Badan Riset Daerah untuk mengambil peran aktif di dalam melahirkan kajian-kajian di satu sisi dan merancang kerja sama penelitian dengan institusi pendidikan yang ada di NTB di sisi lain, yang akan mendorong beberapa sektor unggulan NTB untuk menjadi sektor yang layak dilirik oleh investor.
Baca Juga: Madrasah Mulai Terima Siswa Baru, Keberadaan Madrasah Mudahkan Masyarakat Akses Pendidikan
Selama hampir dua tahun masa penelitian saya di NTB, keterlibatan lembaga riset dan institusi pendidikan memang tidak hadir di dalam berbagai tahap pengambilan kebijakan.
Hal ini akhirnya menyebabkan kesulitan tersendiri bagi calon-calon investor potensial untuk memuluskan rencana investasinya di NTB karena keterbatasan informasi, data dan hasil riset terkait dengan berbagai sektor yang layak untuk ditawarkan kepada investor, baik investor lokal, nasional, maupun internasional.
Jika terlalu bergantung kepada calon investor untuk melakukan kajian awal atas berbagai peluang investasi yang ada di NTB, maka akan memakan waktu yang lama dan berpotensi untuk gagal dalam mendapatkan investor baru atau bahkan lambat dalam mendorong akselerasi investasi di daerah.
Sehingga dalam hemat saya, langkah yang dilakukan oleh Gubernur Lalu Muhamad Iqbal terkait dengan pelibatan secara aktif lembaga riset daerah dan institusi-institusi pendidikan tinggi di NTB dalam pengayaan informasi dan hasil riset di NTB tentang berbagai hal adalah langkah yang sangat strategis sekaligus visioner.
Baca Juga: Najmul Gelar Mutasi Jilid II, Bangun Pondasi Kuat Mendukung Program Pembangunan Daerah
Tentu ke depannya, saya cukup meyakini, gubernur akan mengalokasikan anggaran secara khusus untuk hal ini, sebagai bentuk nyata keberpihakan kepala daerah kepada pengambilan kebijakan yang berbasiskan data dan riset (data dan research driven policy). Secara institusional, peran ini tentu akan diberikan kepada Badan Riset Daerah ( BRIDA), yang dalam beberapa waktu belakangan terpantau “mati suri” alias kehilangan peran dalam gerak langkah pembangunan di Nusa Tenggara Barat.
Berkaca kepada tren intervensi pemerintah di berbagai negara, terutama China, aktifitas research and development memang didukung secara kolaboratif antara investor atau perusahaan dan pemerintah (daerah). Keberhasilan China dalam 20 tahun terakhir yang berhasil menjadi penguasa tivi layar datar, misalnya, yang membuat produsen dari Korea Selatan dan Jepang “angkat topi”, jelas-jelas terbukti berkat dorongan pemerintahan daerah, yang jor-joran mengupayakan lahirnya perusahaan domestik lokal yang qualified di satu sisi serta mampu menjadi penghasil multiplier effect secara ekonomi di sisi lain dengan melibatkan begitu banyak mitra lokal sebagai penyedia dan produsen komponen-komponennya.
Dukungan diberikan tidak saja dalam bentuk insentif pajak, kemudahan pengadaan lahan, sokongan permodalan dari sumber lokal, dan berbagai kelonggaran regulasi, tapi juga keberpihakan fiskal yang nyata dalam mendukung aktifitas research dan development untuk mengembangkan satu produk, agar bisa memenuhi pasar domestik sekaligus tetap bisa catch up dengan perkembangan teknologi dari pihak kompetitior dari luar negeri.
Baca Juga: Kolaborasi Sisternet dan Kementerian PPPA, XLSMART Hadirkan Program Shelnspire di Lapas Perempuan IIA Kerobokan Bali
Latar belakang Lalu Iqbal sebagai diplomat yang notabene telah makan asam garam dan wara-wiri ke berbagai negara seperti China dan Jepang, termasuk Turki tentunya, sangat paham prakondisi kemajuan tersebut.
Kolaborasi antara berbagai pihak sangatlah dibutuhkan untuk membuat sebuah daerah memiliki nilai tambah dan selling point di mata investor.
Salah satunya tentu dengan membiayai dan menghadirkan hasil-hasil riset yang reliable yang bisa menjadi sumber informasi tentang potensi daerah bagi investor di satu sisi dan menjadi pertimbangan tambahan untuk mengakselerasi investor berinvestasi di daerah di sisi lain.
Pemahaman Lalu Iqbal nyatanya tak hanya sampai di situ. Dalam sejarah industrialisasi China, Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Taiwan, peran dukungan pemerintah untuk riset dan pengembangan hanya satu peran dari berbagai peran yang ada.
Baca Juga: Jangan Diabaikan Terus, SDN 2 Semaya Butuh Rehab Segera
Di China, pemerintah daerah bahkan berani mengambil risiko untuk menjadi “angel investor” bagi perusahaan-perusahaan pemula yang dianggap memiliki prospek bagus.
Bukan saja berprospek bagus karena akan menjadi local champion di kemudian hari, tapi juga berprospek bagus karena “kebaruan” yang dibawanya yang akan menciptakan efek berganda yang besar ke daerah.
Perusahaan-perusahaan solar panel di China, yang hari ini adalah penguasa global untuk produk energi terbarukan, berasal dari daerah-daerah di China, yang awalnya mendapatkan investor pemula dari pemerintah daerah setempat.
Dan sebagaimana diketahui, modal awal tersebut disuntikkan oleh pemerintah daerah China melalui perusahaan investasi lokal milik pemerintahan daerah atau dikenal dengan sebutan Local Government Financial Company (LGFC).
Dana perusahaan lokal ini rata-rata tidak berasal dari APBD, tapi dari penjaminan aset daerah berupa lahan, yang diformulasi menjadi “financial asset”, lalu ditawarkan kepada lembaga keuangan, baik di daerah maupun di tingkat nasional
Pada konteks lanjutan inilah akhirnya, saya juga memahami keinginan Gubernur Lalu Iqbal dalam menginisiasi NTB Capital, sebagai local venture capital yang diinisiasi oleh pemerintah daerah untuk berinvestasi pada sektor-sektor atau pada perusahaan-perusahaan di daerah yang dianggap memiliki “comparative advantages” atau pun “competitive advantages”.
Boleh jadi tidak sepenuhnya peran investor diambil alih oleh daerah, setidaknya, seperti di China, sebagai “investor pemula” atau “angel investor” yang akan membawa sebuah perusahaan daerah menjadi layak untuk ditanami investasi oleh investor besar dari tingkat nasional dan internasional.
Dalam bayangan saya, Lalu Iqbal juga sedang membayangkan hal yang sama bahwa dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, Bumi Gora akan memiliki semacam “local champion” yang memproduksi produk dan jasa unggulan, layaknya perusahaan produsen tivi layar datar atau solar panel di China, karena dorongan awal dari pemerintahan daerah.
Namun konteksnya tentu tidak bisa terlalu disamakan dengan China beberapa tahun ke belakang, karena China di dalam lima puluh tahun ke belakang telah melakukan banyak hal yang sangat berdampak positif bagi pengembangan usaha lokal dan dalam melahirkan “local champion”.
Tapi mari kita bayangkan, meskipun belum semaju China, jika dalam sepuluh tahun ke depan NTB menjadi produsen produk turunan rumput laut bermerek nasional, atau produk gula bermerek lokal yang dijual hampir di seluruh gerai minimarket se-Indonesia, atau produk turunan jagung yang dikonsumsi oleh khalayak nasional, alih-alih diekspor ke luar negeri.
Tentu bisa dibayangkan betapa besar kebanggaan yang akan dimiliki oleh NTB di satu sisi dan tentunya betapa besar multiplier effect-nya secara ekonomi kepada NTB di sisi lain.
Dengan proyeksi masa depan yang demikian, maka tak bisa tidak, keinginan Lalu Iqbal dalam mendorong keterlibatan lembaga riset daerah di satu sisi dan institusi-institusi pendidikan di NTB di sisi lain di dalam proses pembangunan NTB mendapatkan legitimasi intelektual yang sepadan.
Ditambah dengan idenya untuk mendirikan semacam local capital venture milik pemerintahan daerah.
Artinya, beliau nyatanya datang dan memang bukan untuk mewujudkan ambisi pribadi semata, tapi juga untuk sebuah mimpi yang besar bagi NTB sebagai sebuah provinsi dan bagi maysrakat NTB.
Mimpi yang besar tak bisa hanya diutarakan secara retoris pada pidato-pidato kepala daerah, tapi harus dirumuskan ke dalam langkah-langkah nyata yang masuk akal.
Dan dalam hemat saya, langkah yang diambil oleh Gubernur Lalu Iqbal dalam berkebijakan, dengan mengoptimalkan peran lembaga riset daerah dan mendirikan capital venture daerah, sudah berada dalam jalur yang tepat ( on the track ), track yang terbukti telah membawa pemerintahan daerah di Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan, atau Jerman, menjadi pemerintahan daerah yang efektif di dalam mengakselerasi pembangunan daerahnya di satu sisi dan sekaligus menyejahterakan masyarakat daerahnya di sisi lain.
Untuk itu, dalam hemat saya, semua pemangku kepentingan di NTB perlu mendukung langkah strategis dari Gubernur Iqbal ini.
Dukungan tersebut bukan saja karena semua stakeholder di NTB memang menyetujui agenda dan visi Lalu Iqbal, tapi karena langkah strategis dalam melibatkan ilmu pengetahuan secara mendalam di dalam setiap kebijakan daerah di satu sisi dan menyiapkan semacam local capital vehicle untuk membantu dunia usaha yang potensial menjadi perusahaan lokal yang layak disinggahi para investor nasional dan global di sisi lain adalah langkah strategis lokal - universal yang telah terbukti di banyak negara. (*)
Editor : Kimda Farida