
LombokPost- Krisis mangrove NTB kini tidak lagi bisa dianggap sepele.
Dalam tiga dekade terakhir, luas mangrove di NTB menyusut drastis dari 49.174 hektare pada 1993 menjadi hanya 11.032 hektare pada 2024.
Kondisi ini menegaskan bahwa mangrove NTB sedang berada di titik kritis dan membutuhkan penanganan serius berbasis sains.
Padahal, mangrove memiliki peran vital sebagai pelindung alami pesisir.
Selain meredam abrasi, mangrove juga menjadi penyerap karbon dan habitat berbagai biota bernilai ekonomi.
Ketika mangrove NTB rusak, dampaknya langsung dirasakan masyarakat pesisir, mulai dari menurunnya hasil tangkapan hingga ancaman kerusakan lingkungan yang lebih luas.
Pemerintah Provinsi NTB sebenarnya telah menargetkan rehabilitasi seluas 3.090 hektare dalam RPJMD 2025-2029 untuk mendukung program FOLU Net Sink 2030.
Namun, di lapangan, upaya rehabilitasi mangrove NTB masih menghadapi berbagai kendala.
Di Desa Pemongkong, Lombok Timur, misalnya, tingkat keberhasilan tumbuh mangrove masih rendah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

