
LombokPost- Peluang kerja ke Malaysia menjadi incaran ratusan calon pekerja migran asal NTB. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil, SMKPPN Mataram bekerja sama dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB menggelar pelatihan dan sertifikasi kompetensi kelapa sawit. Sebanyak 300 peserta tercatat mengikuti program yang dipersiapkan sebagai bekal bekerja di sektor perkebunan Malaysia itu.
Program dengan skema plantation worker itu menjadikan SMKPPN Mataram sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK). Peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis perkebunan kelapa sawit, tetapi juga harus melewati pengujian untuk memperoleh sertifikat kompetensi sebagai salah satu persyaratan keberangkatan.
Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta mengatakan, fasilitas yang tersedia di sekolah mendukung pelaksanaan pelatihan dan uji kompetensi, mulai dari tenaga pengajar berpengalaman, lokasi praktik, peralatan, hingga kebun untuk pembelajaran lapangan.
Pelatihan dan uji sertifikasi kompetensi kelapa sawit itu telah memasuki angkatan ketiga dengan total peserta mencapai 300 orang. Pada angkatan pertama, sebanyak 97 dari 100 peserta dinyatakan lulus uji kompetensi. Tiga peserta lainnya belum dapat mengikuti proses hingga tuntas karena terkendala sakit dan urusan keluarga.
Sementara itu, 100 peserta angkatan kedua sedang menjalani proses pengujian. Adapun 100 peserta angkatan ketiga masih mengikuti pelatihan sebelum memasuki tahapan sertifikasi. Bahkan, sejumlah peserta angkatan kedua mulai dipanggil untuk menjalani persiapan prapemberangkatan. Tahapan itu menjadi bagian dari proses menuju penempatan kerja di Malaysia.
Selama 15 hari atau setara dengan 140 jam pelajaran, peserta mendapatkan pembekalan keterampilan teknis perkebunan kelapa sawit. Materi pelatihan meliputi teknik persemaian bibit unggul, penentuan titik tanam, penggalian lubang, penanaman, pemupukan, perawatan tanaman, hingga pemanenan. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta menjalani uji kompetensi yang dilakukan asesor independen dari Lembaga Sertifikasi Pertanian (LSP) Malang.
“Pengujian ini sangat penting untuk menilai kemampuan peserta berdasarkan standar kompetensi yang ditetapkan. Sertifikasi bukan sekadar bukti keikutsertaan dalam pelatihan, melainkan pengakuan atas kompetensi yang harus dibuktikan melalui proses pengujian,” jelas Sugiarta.
Dia menjelaskan, program itu telah memiliki kuota penempatan kerja di Malaysia melalui BP3MI NTB. Jadwal keberangkatan peserta yang memenuhi persyaratan direncanakan pada akhir 2026 atau awal 2027. Ketersediaan kuota itu membuka peluang bagi peserta yang dinyatakan kompeten untuk melanjutkan proses penempatan. Meski demikian, keberangkatan tetap mengikuti persyaratan dan tahapan resmi yang berlaku.
Zahrul Azhar, salah seorang peserta, mengaku mengikuti pelatihan sertifikasi kompetensi kelapa sawit untuk mempersiapkan diri bekerja di Malaysia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




