Workshop implementasi Kurikulum Merdeka dilakukan secara bertahap. Ia mengungkapkan, tahap pertama telah dimulai Sabtu lalu (23/7). Penerapan kurikulum ini harus segera dilakukan. Sesuai regulasi Kemendikbudristek, hal ini dalam rangka pemulihan pembelajaran akibat pandemi Covid-19.
Dalam keterangan resmi, Mendikbudristek Nadiem Makarim menyebut, Pandemi Covid-19 adalaha sebuah kondisi khusus yang menyebabkan ketertinggalan pembelajaran atau learning loss yang berbeda-beda pada ketercapaian kompetensi peserta didik.
“Selain learning loss, banyak studi nasional maupun internasional yang menyebutkan bahwa Indonesia juga telah lama mengalami krisis pembelajaran atau learning crisis,” ujarnya.
Berbagai macam studi tersebut menemukan, tidak sedikit anak di Indonesia yang kesulitan memahami bacaan sederhana ataupun menerapkan konsep matematika dasar.
Di samping itu, temuan tersebut juga menemukan adanya kesenjangan pendidikan yang cukup curam di antarwilayah dan kelompok sosial di Indonesia. Maka, salah satu upaya yang dilakukan Kemendikbudristek guna mengatasi permasalahan yang ada ialah mencanangkan Kurikulum Merdeka.
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.
Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Perubahan kurikulum merupakan salah satu perubahan sistemik yang dapat memperbaiki dan memulihkan pembelajaran.
“Kurikulum menentukan materi yang diajarkan di kelas. Selain itu, kurikulum juga mempengaruhi kecepatan dan metode mengajar yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan peserta didik,” tandas Menteri Nadiem.
Oleh karenanya, SMAN 5 Mataram dalam menggelar workshop implementasi Kurikulum Merdeka, memperkenalkan kepada guru mengenai sejumlah kebijakan yang menjadi karakteristik di setiap jenjang pendidikan, terutama SMA.
“Untuk jenjang SMA dalam penerapan kurikulum merdeka tidak ada lagi kategori jurusan seperti IPA, IPS, ataupun bahasa,” jelas mantan kepala SMAN 11 Mataram ini.
Selain itu, pada jenjang SMA peserta didik juga diberi kesempatan untuk memilih mata pelajaran yang diminatinya sesuai dengan bakat dan kepribadian. Adanya kebijakan terbaru pada kurikulum merdeka di jenjang SMA tentunya akan menjadi terobosan terbaru dalam dunia pendidikan.
“Karena di kegiatan ini, sebanyak 65 guru sebagai persiapan implementasi kurikulum merdeka,” tandasnya. (yun/r10)
Editor : Baiq Farida