LombokPost- Pagelaran Budaya SDN 43 Mataram kembali digelar di halaman sekolah, Sabtu (29/11), dan menyedot antusias ratusan siswa, orang tua, dan masyarakat. Memasuki tahun kedua, kegiatan bertema “Kagumi dan Lestarikan Budaya Sasak” ini menjadi ruang pelestarian seni tradisi sekaligus edukasi budaya bagi generasi muda.
Tahun ini pagelaran budaya SDN 43 Mataram menampilkan ragam seni khas Sasak, mulai drama tari legenda Putri Mandalika, parade Pemucuk dan Sesatang, Cupak Gerantang, Rudat, Jaran Kamput, barisan pembawa dulang, hingga tradisi Jurakan yang kini jarang dipertontonkan.
Musik Gule Gending mengalun mengiringi suasana, sementara parade ecobrick menampilkan kreativitas siswa melalui busana daur ulang dan wayang botol.
Selain pertunjukan seni, acara juga dimeriahkan bazar UMKM yang dikelola siswa dan orang tua. Aneka jajanan khas Sasak seperti Cerorot, Gegulik, Serebat, Cendol tradisional, hingga Kelepon memenuhi setiap stan dan menarik antrean pengunjung sejak pagi.
Kepala SDN 43 Mataram Ima Nadia Ningsih menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya pagelaran budaya tahun ini. Ia menegaskan Pagelaran Budaya SDN 43 Mataram merupakan ruang belajar yang hidup.
“Kami ingin anak-anak bukan hanya mengenal budaya dari media sosial, tetapi mencintai dan menjaganya,” ujar Ima.
Kabid Kebudayaan Disdik Kota Mataram Ahadi Hudaya menekankan pentingnya pendidikan budaya sejak sekolah dasar. Menurutnya, siswa tidak hanya butuh prestasi akademik tetapi juga karakter dan kecintaan pada warisan leluhur.
Hal senada disampaikan Sekretaris Disdik Kota Mataram Naufal Aldian. Ia menyebut, pagelaran budaya SDN 43 Mataram sebagai langkah nyata pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi.
“SDN 43 Mataram menjadi satu-satunya sekolah yang menggelar acara budaya sebesar ini,” tutur Naufal.
Di sela acara, mahasiswa project volunteer dari Universitas Mataram Fatia Nur Zahira turut membuka stand edukasi kewirausahaan bagi siswa kelas V sebagai bentuk praktik ekonomi kreatif.
Antusias pengunjung semakin terasa ketika para orang tua siswa mengungkapkan kebanggaan mereka. Kartika Candra wali murid kelas V mengaku haru menyaksikan pertunjukan budaya yang tersaji.
“Pembukaan Putri Mandalika saja sudah membuat saya merinding. Kami bangga menjadi bagian dari budaya Sasak,” kata Kartika.
Editor : Siti Aeny Maryam