Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bamsoet Nilai Pilkada oleh DPRD Lebih Rasional, Sudah Diterapkan di Banyak Negara

U
Penulis: Umar Wirahadi❯
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendukung penuh wacana pilkada oleh DPRD karena lebih rasional dan bisa menekan politik uang.
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendukung penuh wacana pilkada oleh DPRD karena lebih rasional dan bisa menekan politik uang.

LombokPost – Di tengah penolakan publik terkait usulan pilkada oleh DPRD, anggota DPR RI Bambang Soesatyo justru mendukung penuh wacana pilkada tidak langsung itu. 


Advertisement

Menurutnya, selain bisa mengurangi permainan uang juga bisa menekan ongkos politik yang semakin merusak jati diri bangsa.

"Termasuk agar sistem politik yang mahal ini tidak ditentukan orang berduit atau oligarki dan menjadi penyebab korupsi," kata Bamsoet, sapaan karib Bambang Soesatyo di Jakarta, Kamis (8/1). 

Disampaikan, pengalaman panjang pilkada langsung di berbagai daerah menunjukkan banyak persoalan struktural yang tidak kunjung terselesaikan.

Advertisement

Seperti politik berbiaya tinggi, maraknya politik uang, hingga meningkatnya kasus korupsi kepala daerah menjadi peringatan keras. 

Bamsoet mengungkapkan data kepala daerah yang terjerat kasus korupsi masih tinggi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sejak tahun 2024 hingga Mei 2025, sebanyak 201 kepala daerah mulai dari Bupati, Wali Kota hingga Gubernur terjerat kasus korupsi.

Advertisement

Sebagian besar perkara tersebut berkaitan dengan perizinan, proyek infrastruktur, serta pengelolaan anggaran daerah.

"Artinya sistem yang ada belum sepenuhnya menghasilkan kepemimpinan daerah yang efektif dan berintegritas," cetusnya. 

Dikatakan, pilkada langsung sering kali berubah menjadi kontestasi modal.

Banyak calon harus mengeluarkan biaya sangat besar sejak proses pencalonan, kampanye, hingga jelang pencoblosan.

"Situasi ini menciptakan lingkaran setan, karena ketika terpilih, kepala daerah terdorong mengembalikan modal politiknya melalui cara-cara yang menyimpang," tegas mantan ketua DPR RI itu. 

Pilkada oleh DPRD, sambung dia, sejalan dengan aspek efisiensi anggaran negara.

Sebab pilkada langsung membutuhkan biaya sangat besar, mulai dari logistik pemungutan suara, pengamanan, hingga potensi pemungutan suara ulang yang kerap terjadi akibat sengketa hasil.

"Setiap kali pilkada, dana hibah ke penyelenggara pemilu bisa sampai puluhan triliun," imbuh Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu. 

Lebih jauh disampaikan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD sudah berjalan dengan efektif di sejumlah negara. Sistem ini diterapkan di Malaysia, India, Inggris, Kanada dan Australia. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pilkada Langsung Hidupkan Demokrasi Lokal, Begini Pandangan Akademisi NTB Pascaputusan MK

Pilkada Langsung Hidupkan Demokrasi Lokal, Begini Pandangan Akademisi NTB Pascaputusan MK

Akademisi dan masyarakat sipil menyambut positif putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak pemilihan kepala daerah (Pilkada) lewat DPRD.

Partai Non Parlemen Sambut Gembira Putusan MK soal Penolakan Pilkada Lewat DPRD 

Partai Non Parlemen Sambut Gembira Putusan MK soal Penolakan Pilkada Lewat DPRD 

Koalisi partai non parlemen di Provinsi NTB menyambut gembira putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak usulan Pilkada melalui DPRD.

KPK Terima Laporan Dugaan Politik Uang Muktamar NU, PCNU Sekadau Sebut 27 Cabang Siap Buka Suara

KPK Terima Laporan Dugaan Politik Uang Muktamar NU, PCNU Sekadau Sebut 27 Cabang Siap Buka Suara

KPK menerima laporan dugaan politik uang Muktamar ke-35 NU dari PCNU Sekadau dan akan memverifikasi serta menelaah laporan itu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer