
LombokPost – Pembangunan desa tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur. Penguatan masyarakat melalui pemberdayaan, pelestarian budaya, serta nilai-nilai agama dan kearifan lokal juga harus menjadi perhatian utama.
Prinsip tersebut dinilai penting agar pembangunan mampu menciptakan kemandirian masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya yang telah mengakar.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan kuliah umum atau stadium generale yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Selasa (3/11).
Kegiatan mengangkat tema "Agama, Kearifan Lokal dan Pembangunan Inklusif: Kontribusi Perguruan Tinggi dalam Akselerasi Kebijakan Desa Berdaya di Nusa Tenggara Barat".
Kuliah umum tersebut menghadirkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si sebagai narasumber tunggal.
"Pembangunan harus tetap memperhatikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Modernisasi tidak justru menggerus identitas masyarakat desa," tegas Rektor UIN Mataram Prof. Dr. Masnun, M.Ag dalam sambutannya.
Masnun juga menyampaikan pesan Menteri Agama bahwa proses belajar tidak hanya menjadi kewajiban mahasiswa, tetapi dosen juga harus terus didorong untuk belajar dan mengembangkan kapasitas keilmuan.
Menurutnya, pembangunan desa harus berorientasi pada pemberdayaan. Dia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW hadir untuk menyempurnakan, bukan menggusur budaya yang sudah ada dan berakar di tengah masyarakat.
"Jangan sampai pembangunan hanya berorientasi pada fisik, tetapi justru menggusur budaya dan kearifan lokal. Kita harus memberdayakan masyarakat agar pembangunan dalam perspektif modernitas tidak mencerabut nilai-nilai budaya lokal," pesannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




