Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Pokmas di Loteng Memanfaatkan Eceng Gondok di Bentungan Batujai

Rury Anjas Andita • Jumat, 22 Juli 2022 | 16:00 WIB
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).
BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).
TANAMAN Eceng Gondok di Bendungan Batujai selalu menjadi masalah bagi pengelola. Namun, bagi Kelompok Masyarakat (Pokmas) Kelurahan Panjisari justru mendatangkan manfaat.

----

Salah satu jenis tumbuhan air yang mengapung di Bendungan Batujai ini setiap tahun, bahkan setiap bulan hingga minggunya selalu dibersihkan. Alat-alat berat Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I diturunkan.

Sejak berdiri, pengelola bendungan dibikin pusing oleh tanaman Eceng Gondok. Karena baru beberapa hari dibersihkan, tanaman itu kembali bermunculan dan tumbuh subur. Begitu seterusnya. Sehingga pengelola bendungan merasa tanaman Eceng Gondok sulit dibasmi.

Gara-gara tanaman Eceng Gondok daya tampung air di bendungan semakin berkurang. Ditambah lagi, sedimentasi di bawah permukaan bendungan semakin menumpuk. Baik lumpur, bebatuan hingga sampah. Luas genangan air di tempat itu mencapai 890 hektare (ha). Sedangkan luas daerah irigasi mencapai 3.150 ha.

Kemudian, luas sabuk hijau atau grennbelt  mencapai 100 ha dan luas keliling genangan bendungan mencapai 21 kilometer (km). Kondisi seperti itu, dikeluhkan warga yang setiap harinya mencari ikan di bendungan. Termasuk, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Praya dan para petani.

Di mana, pengelolaan air bersih di tempat itu tidak bisa berjalan maksimal lantaran stok air di bendungan terus menyusut. Begitu pula petani semakin kesulitan mendapatkan air irigasi pertanian dari Bendungan Batujai.

Di satu sisi, tidak ada warga lingkar bendungan yang mampu memanfaatkan dan mengelola tanaman Eceng Gondok. “Atas dasar itulah, kami mencoba mempelajari bagaimana cara memanfaatkannya,” cerita Ketua Pokmas Kelurahan Panjisari Badrul Huda pada Lombok Post.

Lewat membaca buku dan internet, hingga bertukar pikiran dengan warga lain di lingkar Bendungan Batujai. Awalnya, Eceng Gondok akan dimanfaatkan untuk bahan-bahan kerajinan. Namun, setelah dipikir-pikir membutuhkan waktu dan tenaga banyak. “Karena menurut kami ribet,” tandas pria kelahiran 23 Mei 1976 tersebut.

Di mana, kalau jadi bahan kerajinan seperti tas, dompet, topi atau sandal, maka batang-batang Eceng Gondok terlebih dahulu harus dipilih dan dipilah mana yang masih bagus, dan tidaknya. Setelah itu, dikeringkan dan kemudian digunakan.

Di satu sisi, butuh proses lama untuk mempromosikan hasil-hasil kerajinan tersebut. Untuk itu, pihaknya sepakat memanfaatkan tanaman Eceng Gondok sebagai kompos. Bagi Badrul, itu lebih mudah, cepat dan murah. Tinggal mengambil Eceng Gondok di bendungan, kemudian dikelola sedemikian rupa, sehingga menjadi kompos. “Per 30 ton Eceng Gondok mampu menghasilkan 5 ton kompos,” ujarnya.

Proses pengerjaannya dijalankan bersama-sama warga yang tergabung dalam pokmas. Tidak saja dari Kelurahan Panjisari, tapi dari Kelurahan Prapen dan Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#enceng gondok #Loteng #bendungan batujai #pokmas panjisari