Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Semangat Kerja Tenaga Sukarela di UTD Dikes Loteng

Rury Anjas Andita • Kamis, 23 Februari 2023 | 16:30 WIB
MENYIAPKAN KURSI RODA: Brigadir Agus Salim sedang menyiapkan kursi roda baru untuk anak lumpuh dari keluarga tak mampu di Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia, belum lama ini.
MENYIAPKAN KURSI RODA: Brigadir Agus Salim sedang menyiapkan kursi roda baru untuk anak lumpuh dari keluarga tak mampu di Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia, belum lama ini.
SEMANGAT kerja para tenaga sukarela unit transfusi darah (UTD) di Lombok Tengah ini luar biasa. Mereka bekerja tanpa mengenal waktu, hari, dan tempat.

----

Hari kerja atau libur, bagi para tenaga sukarela UTD di Loteng ini sama saja. Mereka tetap bergelut dengan pekerjaannya masing-masing. Biasanya setiap Sabtu atau Minggu atau hari-hari besar keagamanan, kenegaraan atau menyambut hari ulang tahun daerah hingga desa.

Aksi donor darah sendiri seringkali dijadikan satu rangkaian kegiatan-kegiatan yang digelar pemerintah atau masyarakat pada umumnya. Tugas mereka biasanya diawali dari pemeriksaan kesehatan pendonor. Jika memenuhi syarat, maka pendonor menempati tempat yang sudah disiapkan guna diambil darahnya.

Di UTD sendiri terdapat 26 orang pekerja. Dua orang diantaranya berstatus aparatur sipil negara (ASN). Kemudian, satu orang berstatus magang dan selebihnya 23 orang berstatus tenaga sukarela.

Sebenarnya mereka bekerja tanpa pamrih. Karena namanya saja tenaga sukarela. Mereka hanya ingin mempertahankan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah didapatkan di bangku perkuliahan masing-masing. Rata-rata mereka datang dari jurusan perawat dari berbagai perguruan tinggi di NTB.

Hanya saja, pihak UTD merasa empati dan simpati. Apalagi, untuk urusan donor biasanya dilaksanakan setiap pagi. Terkadang sembari bekerja mereka secara bergiliran sarapan. Begitu selesai mengambil semua donor darah, maka tidak lantas mereka langsung pulang. Tapi, harus mengemas kantong-kantong darah di tempat yang aman.

Harus memilih dan memilah mana golongan darah A, AB atau O. Kemudian, kalau masuk daftar piket, maka mereka harus diam di kantor UTD. Sebaliknya, jika tidak, maka barulah mereka pulang, guna berkumpul bersama keluarga di rumah.

“Melihat proses kerja seperti itu, saya harus berikan honor untuk mereka Rp 400 ribu per bulan per orang,” cerita Mohammad Munzir, Koordinator Teknik Pelayanan UTD Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng pada Lombok Post.

Honor sebesar itu, tentu tidak seberapa. Kalau ukuran standar kos-kosan di Loteng paling rendah Rp 600 ribu per bulan. Artinya, kalau para tenaga sukarela itu ngekos, maka mereka harus menambah uang kos Rp 200 ribu. Itu belum dihitung makan dan minum, pulsa, bahan bakar minyak (BBM) dan lain sebagainya.

Tapi, semangat mereka luar biasa. Karena mereka lah, stok-stok darah di Gumi Tatas Tuhu Trasna tetap terjaga. Sebelum-sebelumnya mereka mendapatkan upah di bawah Rp 400 ribu. Bahkan tidak mendapatkan apa-apa. Kecuali, bekerja dan bekerja semata.

“Dulu, kami berawal dari tujuh orang. Kemudian, bertambah menjadi 11 orang dan sekarang 26 orang,” ujar pria berbadan kurus tersebut.

Bagi Munzir, prinsip kerja para tenaga UTD selain tidak ada hari libur, yakni siap kerja di mana saja, kapan saja dan dalam situasi apa saja. Yang terpenting, para pendonor siap dan stok darah aman. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#UTD DIkes Loteng #tenaga sukarela #Transfusi Darah #donor darah