Lokasi wisata alam di Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara (BKU), viral di media sosial. Siapa sangka, lahan seluas dua hektare itu dulunya merupakan bekas galian C.
LOMBOK TENGAH
Sepekan pasca perayaan Lebaran Topat, lokasi wisata alam kolam renang Honeymoon dan pemancingan yang berlokasi di Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng), tetap ramai dikunjungi warga lokal.
Letaknya yang berdekatan dengan Kota Mataram dan Lombok Barat menjadikannya pilihan baru bagi warga untuk berlibur di akhir pekan. Menuju lokasi wisata alam ini pun tidaklah sulit.
Jika dari arah Kota Mataram, pengunjung dapat melewati jalan nasional jalur Narmada, perbatasan antara Lombok Barat dan Lombok Tengah. Tepatnya masuk melalui Desa Pemepek, Loteng, lalu belok kanan ke arah Desa Tanak Beak.
Baca Juga: 136 Starter MRS 2025 Panaskan di Sirkuit Mandalika
Tiba di lokasi wisata hanya beberapa kilometer dari jalan raya. Meski harus melewati sebagian jalan beraspal dan disambung jalan tanah, itu tak menyurutkan niat pengunjung untuk menikmati wahana air baru ini.
Perlu diketahui, wisata alam kolam renang ini dibuka pertama kali setelah Idul Fitri 1446 Hijriah. Saat dibuka, tercatat 500 pengunjung per hari memadati area kolam. Kini, tak kurang dari 150 orang per hari datang menikmati lokasi tersebut.
Pemilik wisata alam kolam renang Honeymoon ini bernama H Alimun. Ia sebenarnya tidak berlatar belakang sebagai pegiat wisata. Ia adalah penambang galian C.
Namun karena penambang kerap dianggap perusak alam, ia ingin mengubah pola pikir masyarakat. Lahan dua hektare bekas galian C disulapnya menjadi wisata alam kolam renang dan pemancingan.
“Saya ubah karena kita yang dikira menggali (penambang, red) selalu merusak alam. Sehingga inisiatif membuat percontohan mengubah bekas galian C menjadi kolam renang dan pemancingan, artinya bisa dimanfaatkan masyarakat umum,” beber pria asal Tanak Beak ini.
Sebelum beroperasi, ia mulai menata kawasan ini sejak 2023. Dalam kurun waktu dua tahun, ia menyiapkan wahana kolam renang, gazebo atau berugak, dan aula. Lengkap dengan fasilitas toilet, tempat kuliner, dan musala.
“Untuk biaya masuk terjangkau ya, dewasa Rp15 ribu per orang, anak-anak Rp10 ribu per orang,” terang Alimun.
Baca Juga: Sosialisasi Koperasi Merah Putih di Loteng, Dorong Kebangkitan Ekonomi Desa
Ke depan, ia berencana mengembangkan wisata alam ini dengan permainan anak-anak, spot foto, dan lainnya. Mengingat penataan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, Alimun berharap ada bantuan pemerintah, khususnya untuk membangun akses jalan hotmix menuju lokasi wisata.
“Karena bagaimanapun kita berdayakan warga lokal yang bekerja di lokasi wisata ini, sekitar 25 orang,” tutup dia. (Lestari Dewi)
Editor : Akbar Sirinawa