Pemilu 2029 memang masih lama, namun momentum ini dimanfaatkan Bawaslu Loteng untuk ambil start dalam mendorong peningkatan partisipasi pemilih pemula dikalangan pelajar tingkat SMA/SMK di Kota Praya.
----
TIDAK ada kursi, tidak ada pula karpet berwarna-warni. Suasana di dalam aula sekolah jauh dari suasana formal dan kaku.
Ratusan siswa-siswinya berbaur, duduk selonjoran di lantai yang sudah di sapu bersih.
Mereka membentuk formasi setengah lingkaran besar menghadap panggung yang hanya dilapisi terpal berwarna hijau.
Tas-tas sekolah diletakkan di samping, beberapa menjadi bantal dadakan.
Meski posisi duduknya santai, khas anak muda yang sedang menyimak materi di luar jam pelajaran, atmosfernya tetap serius.
Mereka adalah Generasi Z dan Alpha awal, yang akan menjadi penentu nasib politik di Pemilu 2029.
Di hadapan mereka, jajaran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mulai berbicara tanpa jarak, mencoba menyentuh empati mereka.
“Kita tahu, politik sering dianggap rumit. Tapi coba bayangkan ini: sepatu mahal yang kalian ingin beli, atau kuota internet cepat yang kalian butuhkan. Semua itu diputuskan oleh hasil Pemilu,” ujarnya, menarik perhatian mereka yang tadi sempat menguap.
Para siswa tadinya asyik dengan kesibukan masing-masing.
Beberapa yang duduk paling belakang bahkan mulai merapatkan diri.
Mereka menyimak pemaparan yang menjelaskan tentang Partisipasi Aktif Menggunakan Hak Suara saat Pemilu 2029.
Mengenakan seragam coklat pramuka, mereka adalah calon pemilih 2029 mendatang.
Di tangan beberapa dari mereka tergenggam buku catatan, sementara yang lain hanya menyimak, sesekali berbisik penuh tanya.
Di panggung terpal, Kordiv Bawaslu berbicara dengan intonasi yang tegas namun memotivasi, memecah keheningan.
“Politik uang,” ucapnya, membuat seluruh aula mendadak sunyi.
Ia tak hanya memberi teori, tetapi bercerita tentang dampak nyata dari kecurangan, menggunakan analogi yang mudah dipahami tentang masa depan desa dan kota mereka sendiri.
Tiba-tiba, seorang siswi di barisan tengah mengangkat tangan. Wajahnya yang tegang menunjukkan keseriusan.
“Bagaimana kami yang masih di kelas sepuluh bisa ikut mengawasi, Pak? Pemilunya 'kan masih lama?” tanyanya.
Pertanyaan itu menjadi percikan api. Tim Bawaslu tersenyum, menyambut antusiasme generasi muda itu.
Mereka menjelaskan bahwa pengawasan dimulai dari diri sendiri, tidak menerima amplop, berani menolak intimidasi, dan menularkan kesadaran ke lingkungan rumah.
Ketika Bawaslu menjelaskan tentang prinsip LUBER JURDIL, kepala-kepala siswa terlihat mengangguk serempak.
Mereka mulai menyadari, Pemilu bukan sekadar mencoblos, tetapi melibatkan hak moral untuk menjaga prosesnya.
Mata mereka yang muda dan penuh harapan kini tak hanya melihat bangku kuliah di depan, tetapi juga bilik suara yang menanti mereka empat tahun lagi.
Di dalam aula itu, bukan hanya janji Pemilu 2029 yang digemakan, tetapi janji generasi muda Lombok Tengah untuk menjadi pilar utama integritas demokrasi.
Kordiv Pencegahan Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Loteng Usman Faesal menyampaikan, untuk bisa berpartisipasi dibutuhkan pemahaman, sehingga Bawaslu mulai galakan program menyapa calon pemilih pemula yang ada di sekolah-sekolah.
“Jadi para pelajar ini diberikan pembekalan tentang bagaimana mengawasi pemilu. Para calon pemilih pemula ini menjadi sasaran karena saat pemilu nanti, mereka sudah memiliki hak suara,” terangnya.
Editor : Kimda Farida