Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengintip Rahasia Eksistensi La Reunion Padel Club di Lombok Tengah, Kombinasi Pelatihan Rutin untuk Pegawai dan Standar Pelayanan yang Konsisten

Lestari Dewi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:52 WIB
Seorang wisatawan asing sedang mendaftar untuk berolahraga padel di La Reunion Padel Club, Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah.
Seorang wisatawan asing sedang mendaftar untuk berolahraga padel di La Reunion Padel Club, Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah.

La Reunion Padel Club sukses mentransformasi tren olahraga raket menjadi ikon sport tourism yang menghidupkan interaksi wisatawan global di Kuta Mandalika. Strategi pasar dan konsistensi pelayanan menjadi kunci utama yang menjaga eksistensi bisnis ini tetap berkelanjutan.

----

MENDUNG menggelayut rendah di langit Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah, sore itu. Cakrawala yang biasanya terik berganti dekorasi awan kelabu, memberikan nuansa sejuk di sepanjang jalur wisata Kuta Mandalika.

Meski cuaca tampak murung, denyut kehidupan di La Reunion Padel Club justru berada di puncak gairahnya. Sejak pintu dibuka, deretan kendaraan wisatawan mulai memadati area parkir. Hal ini menandakan olahraga raket tanpa senar tersebut telah menjadi magnet baru di kawasan selatan Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Meski tribun bangku penonton tak tampak penuh sesak, mata akan disuguhi pemandangan kontras di area permainan. Enam lapangan "sangkar kaca" yang berjejer rapi seluruhnya terisi penuh (full booked). Tak ada satu pun lapangan yang menganggur.

Di dalam setiap lapangan, tampak formasi ganda, empat orang pemain, yang didominasi wisatawan mancanegara. Mereka tampil modis dengan perlengkapan padel terkini, bergerak lincah mengejar bola yang memantul tak terduga. Sesekali terdengar seruan bahasa asing yang bersahut-sahutan di tengah reli panjang.

Keseruan pecah setiap kali bola berhasil dikembalikan setelah memantul dari dinding kaca belakang, teknik unik yang hanya dimiliki padel. Ketika smes keras tak mampu dikembalikan lawan atau poin berhasil diraih lewat reli melelahkan, sorak-sorai dan tawa renyah pecah di dalam lapangan.

“Nice shot!” teriak seorang pemain asing sambil melakukan high-five dengan rekannya setelah memenangkan poin krusial. Raut wajah mereka tampak penuh kegembiraan, menunjukkan bahwa bagi para pelancong ini, padel adalah cara terbaik menikmati Pulau Lombok.

Para staf La Reunion tampak sibuk memastikan kenyamanan pemain, mulai dari penyediaan handuk hingga menyiapkan pesanan di area restoran yang mulai terisi oleh mereka yang baru saja menyelesaikan pertandingan. Aktivitas tanpa jeda di enam lapangan ini menjadi bukti La Reunion telah berhasil menciptakan ekosistem olahraga yang hidup.

“Di sini, padel bukan sekadar pertandingan mencari pemenang, melainkan sebuah panggung kegembiraan dan interaksi sosial yang menyatukan para wisatawan dari berbagai belahan dunia dalam satu ritme permainan yang seru,” ungkap Manager La Reunion Padel Club Johan Chris pada Lombok Post.

Memasuki usia ketiga tahun ini, menjaga eksistensi La Reunion tentu tidak mudah. Terlebih di Lombok Tengah, potensi bisnis ini masih tergolong baru dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal. 

“Kami hadir pada akhir bulan Desember 2023 lalu, memasuki tahun 2026 untuk menjaga eksistensi lapangan padel tentu tidak mudah,” ucap pria asal Manado itu.

Johan menuturkan, menjaga eksistensi usaha, termasuk lapangan padel, terletak pada keberlanjutan. Yakni, menjaga pelayanan konsisten terhadap konsumen. Setiap pekerja di lapangan padel seluas 40 are ini memiliki nilai tambah. Mereka diwajibkan bekerja dengan hati dan siap memberikan informasi.

“Semua jenjang harus begitu, waiters, resepsionis, hingga cleaning service sekalipun,” katanya.

Menjaga keberlanjutan tentu tidak hanya sebatas lisan. Manajemen La Reunion membuktikannya dengan rutin menggelar pelatihan bagi pekerja. Mulai dari pelatihan bahasa Inggris, teknik menyampaikan informasi yang baik kepada konsumen, termasuk pemberian kelas gratis bermain padel kepada para staf.

“Sehingga ketika ada tamu yang kekurangan pemain, mereka bisa ikut terlibat dan melengkapi permainan padel,” papar Johan.

Hal terpenting sebelum terjun ke usaha lapangan padel, kata dia, adalah memahami segmen yang dituju. Sebab, setiap segmen memiliki kebiasaan berbeda. Ada yang bermain rutin, ada yang musiman, dan ada juga yang datang karena event tertentu. Jika semua diperlakukan sama, potensi bisnis bisa tidak maksimal.

Dengan memahami segmen pasar, pemilik lapangan padel bisa menyusun strategi yang lebih tepat. Mulai dari jam operasional, paket sewa, sampai cara promosi, semuanya disesuaikan dengan karakter pemain. “Untuk La Reunion sendiri kami menyasar komunitas ekpatriat,” kata dia. 

 

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #Desa Kuta #Sport Tourism #padel