LombokPost-Nasib malang menimpa rumah warga di pinggir Jalan Raya Sengkol, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pascahujan lebat beberapa hari lalu mengakibatkan lumpur dari perbukitan turun ke jalan raya dan masuk ke rumah warga.
Kondisi ini sering terjadi setiap musim hujan. Namun, belum ada solusi konkret pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut. Meski ada pengerukan drainase, hal itu tidak lantas menyelesaikan persoalan langganan ini.
“Dua tahun lalu tidak pernah seperti ini, lumpur sampai masuk ke dalam rumah, bahkan sumur saya, lihat saja,” ucap Kartinam warga setempat pada LombokPost, Minggu (25/1).
Kartinam mengaku lelah dengan masalah yang tak kunjung tuntas. Setiap hujan, lumpur dari perbukitan turun. Ia bersama suami harus menguras air dan lumpur yang masuk ke pekarangan. Luapan air dari saluran pun justru masuk ke rumahnya.
“Tersendat sama lumpur drainasenya, air jadi naik ke dalam pekarangan, lubangnya juga terlalu kecil dan pendek banyak lumpur dari atas bukit,” keluhnya.
Terpisah, Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah mengatakan, pihaknya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah turun ke sejumlah lokasi terdampak pekan lalu untuk menyalurkan bantuan logistik. Pihaknya juga mendata infrastruktur yang belum tertangani pemerintah daerah.
“Persoalan lumpur (yang menumpuk) di sejumlah titik penting penanganannya menghilangkan lumpur-lumpur dengan menurunkan alat berat,” ucap politisi Golkar ini.
Namun karena keterbatasan alat berat dan luasnya wilayah, penanganan tidak bisa dilakukan serentak. Melalui Dinas PUPR Lombok Tengah, pembersihan gundukan lumpur dilakukan secara bergantian.
“Bergilir dari Praya Barat Daya, Praya Barat hingga (gundukan lumpur) di depan Sirkuit Mandalika,” jelas mantan Sekda Lombok Tengah ini.
Sementara itu, Ketua DPRD Lombok Tengah Lalu Ramdan mengaku prihatin atas terdampaknya warga hingga pengusaha di bagian selatan Lombok Tengah akibat cuaca ekstrem. “Ini kan tidak hanya berdampak di permukiman tetapi yang punya home stay, hotel di kawasan pariwisata sana,” katanya.
Ramdan mengatakan, pihaknya segera bertemu jajaran OPD terkait untuk membahas persoalan tersebut guna mengevaluasi penanganan bencana oleh pemerintah.
“Kami juga ingin mengetahui langkah apa yang dilakukan setelah adanya musibah ini,” ucap politisi Gerindra ini.
Dampak bencana yang menjadi sorotan publik belakangan ini tidak boleh dibiarkan tanpa solusi. Sebab, hal itu mengganggu wajah pariwisata di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
“Kita juga ingin dengar terhadap perencanaan pemerintah daerah mengenai situasi dan kondisi wisata di selatan, apakah akan seperti ini terus,” paparnya.
Ramdan menilai bencana terjadi disebabkan berbagai faktor. Pertama, pemerintah dianggap kebablasan memberikan izin pembangunan homestay hingga hotel dan restoran di sekitar perbukitan Selong Belanak hingga Kuta.
“Dari sisi aturan, kita saat ini sedang bahas ranperda RTRW, tapi perlu juga dicari jalan keluar terhadap bangunan yang sudah ada ini, tidak bisa langsung dirobohkan, perbukitan yang gundul harus ada konsep jelas,” kata Ramdan.
Faktor lainnya, kondisi aliran sungai menuju laut lepas tersedimentasi lumpur. Aliran sungai juga kian menyempit akibat bangunan masyarakat di sekitar sungai.
“Pemda harus hati-hati dan ini memang harus didiskusikan panjang,” cetusnya.
Editor : Akbar Sirinawa