LombokPost-Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 4.723 kasus di Lombok Tengah. Angka ini meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama 2025.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah Putrawangsa mengatakan, sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia anak-anak hingga balita.
“Kasus ini didominasi anak-anak hingga balita sebesar 70 persen dan tersebar di 29 puskesmas,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (25/3).
Dari total kasus, sebanyak 482 kasus terdiagnosa pneumonia. Hingga kini tidak ditemukan laporan kematian akibat penyakit ini. Dikes juga mencatat sejumlah puskesmas dengan angka kasus cukup tinggi, di antaranya Puskesmas Janapria, Puskesmas Mangkung, Puskesmas Langko, dan Puskesmas Pengadang.
“Rata-rata peningkatan kasus di wilayah tersebut mencapai 10 persen,” sebut dia.
Menurut Putrawangsa, lonjakan kasus ISPA dipicu berbagai faktor. Di antaranya peralihan musim, kondisi lingkungan, serta perilaku hidup masyarakat yang belum menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Putrawangsa menjelaskan, ISPA merupakan infeksi menular yang menyerang saluran pernapasan. Mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini terjadi cepat dan berlangsung kurang dari 14 hari.
ISPA disebabkan virus, bakteri, atau jamur. Gejalanya meliputi batuk, pilek, demam, dan sesak napas. Bagian yang terserang umumnya saluran napas atas, seperti hidung, tenggorokan, dan sinus. Serta saluran napas bawah, seperti trakea, bronkus, dan paru-paru.
Contohnya flu biasa (common cold), influenza, radang tenggorokan (faringitis), sinusitis, dan pneumonia. Gejala umum lainnya berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, nyeri otot, demam, dan lemas.
“Penularannya melalui udara (droplet) saat penderita batuk atau bersin, serta kontak langsung,” jelasnya.
ISPA umum terjadi dan berisiko tinggi bagi anak-anak dan lansia. Jika gejala menetap atau terjadi sesak napas, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya menginstruksikan seluruh puskesmas memperkuat edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat. Terutama bagi warga yang menunjukkan gejala gangguan pernapasan.
“Kami menghimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, serta melengkapi vaksinasi,” katanya.
Dinas Kesehatan berharap kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dapat menekan penyebaran ISPA. Terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan balita.
“Rutin mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, menjaga daya tahan tubuh, dan menghindari kontak dengan penderita,” tutup dia.
Editor : Jelo Sangaji