
LombokPost - Hamparan nanas yang tumbuh subur di Desa Lendang Nangka Utara tak lagi sekadar pemandangan biasa. Dari kebun-kebun sederhana itulah, denyut baru pariwisata perlahan lahir, membawa desa ini bertransformasi dari tempat singgah menjadi tujuan yang mulai dilirik wisatawan mancanegara.
Sepanjang jalan Desa Lendang Nangka Utara, hamparan tanaman nanas tumbuh subur di kebun-kebun warga. Sebagian sudah berbuah dan siap panen, sebagian lainnya masih dalam masa tanam. Tanaman nanas itu berdampingan dengan komoditas lain seperti alpukat dan durian, membentuk lanskap hijau yang memanjakan mata.
Pemandangan tersebut perlahan menjadi daya tarik tersendiri. Desa yang dulunya hanya menjadi tempat singgah, kini mulai dilirik wisatawan, termasuk pelancong mancanegara. Seiring itu, masyarakat setempat mulai mengembangkan sektor pariwisata dengan membangun penginapan.
Baca Juga: Ekas Sunset Trail Run Jadi Event Tahunan, Wakil Bupati Lotim Ungkap Rencana Promosi Wisata Selatan
Salah satunya Rifai pemilik Lentera Lombok. Ia menceritakan, sebelum terjun ke dunia pariwisata, dirinya fokus mengembangkan produk olahan nanas. Berbagai produk dibuat, mulai dari keripik nanas, selai, hingga kerupuk berbahan dasar nanas.
“Olahan nanas itu kemudian kami masukkan ke penginapan-penginapan yang ada di desa wisata, seperti Tetebatu, Jeruk Manis sebagai suvenir,” katanya ditemui di penginapannya.
Kemampuan mengolah nanas diperoleh secara otodidak melalui internet. Di awal merintis usaha, ia kerap mengalami kerugian. Namun seiring waktu, permintaan terus meningkat hingga ia kewalahan memenuhi pesanan.
Baca Juga: Setelah Ramai, Dispar Lotim Ambil Alih Pengelolaan Wisata SLL dan Diberikan kepada Investor
Usahanya kemudian berkembang. Tempat produksi miliknya bahkan kerap dijadikan lokasi praktik mahasiswa dari berbagai kampus. Namun keterbatasan ruang di rumah membuatnya berpikir untuk membangun rumah produksi yang lebih representatif.
“Sejak itu saya tidak lagi produksi, saya kemudian fokus ke pariwisata. Namun sekarang saya sedang merintis untuk buat rumah produksi yang dekat dengan penginapan,” jelasnya.
Berlatar belakang sebagai guru bahasa Inggris, Rifai sempat bekerja di salah satu penginapan di Desa Kembang Kuning. Ia belajar langsung mengenai manajemen penginapan, pelayanan tamu, hingga penataan kamar.
Setelah memahami pengelolaan, ia menyulap lahan bekas tambang galian menjadi penginapan. Meski lokasinya tidak berada di pinggir jalan utama dan tergolong baru, penginapan tersebut hampir setiap hari menerima tamu asing.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




