Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemarau Panjang, Hasil Panen Sayur Sembalun Tidak Maksimal

S
Penulis: Supardi❯
Petani Sembalun memanen sayur seledri di lahan pertanian miliknya.
Petani Sembalun memanen sayur seledri di lahan pertanian miliknya.

Advertisement

 

LombokPost-Musim kemarau tahun ini membuat hasil panen tanaman sayur petani di daerah Sembalun menjadi tidak maksimal. Bahkan, minimnya pasokan air irigasi mengakibatkan banyak tanaman petani layu dan kering.

“Hampir semua tanaman hortikultura terdampak. Mulai dari bawang putih, wortel, kol, tomat hingga stroberi banyak yang layu dan mati karena kurangnya pasokan air,” terang salah seorang petani sayur di Sembalun, Julaiman, Jumat (23/10).

Advertisement

Bahkan, kata dia, sebagian petani saat ini memilih mengosongkan lahannya sambil menunggu hujan turun untuk kembali bercocok tanam. Selain petani yang mengandalkan irigasi, petani yang memanfaatkan sumur bor juga ikut mengalami keterbatasan air. Mengingat satu sumur bor dimanfaatkan minimal 10 orang petani dan tidak semua lahan bisa terairi.

“Memang ada petani yang juga menggunakan sumur bor. Tapi air sumur bor juga sudah berkurang, sehingga mereka juga menunggu hujan baru bisa bercocok tanam lagi,” jelasnya.

Advertisement

Kata dia, kondisi ini juga mengakibatkan pendapatannya jauh berkurang. Dari satu petak tanaman wortel, sebelumnya dia memperkirakan keuntungan bersih bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Namun, kini dirinya hanya memperoleh keuntungan Rp 3 juta.

Kondisi ini terjadi karena tanaman tidak bisa tumbuh secara optimal akibat cuaca yang terlalu panas. Kemarau tahun ini dinilai sebagai yang terparah dirasakan petani.

“Cuaca tahun ini cukup parah. Hampir seluruh jenis sayur-sayuran yang di sawah maupun di kebun ikut terdampak,” katanya.

Kendati demikian, harga beberapa tanaman hortikultura saat ini justru meningkat. Salah satunya tomat. Harga tomat saat ini berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram di tingkat petani. Pada bulan sebelumnya, harganya masih Rp 3.000 per kilogram.

“Harga memang naik, tapi tanamannya banyak yang mati. Jadi walaupun mahal namun belum bisa mengimbangi kerugian akibat tanaman yang mengering dan hasil panen yang menurun,” tandasnya. (par/r7)

Advertisement
Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Camat Sembalun Imbauan Masyarakat Jaga Kondusifitas Saat Pilkades Serentak

Camat Sembalun Imbauan Masyarakat Jaga Kondusifitas Saat Pilkades Serentak

Pemerintah Kecamatan Sembalun mengimbau masyarakat di enam desa menjaga kondusivitas pemilihan kepala desa (Pilkades) di daerah Sembalun

Anggota DPRD NTB Lalu Zaenal Hamdi Sorot Infrastruktur dan Hilirisasi Produk Pertanian Sembalun

Anggota DPRD NTB Lalu Zaenal Hamdi Sorot Infrastruktur dan Hilirisasi Produk Pertanian Sembalun

Kawasan Sembalun di Kabupaten Lombok Timur terus menunjukkan posisinya sebagai salah satu ikon pariwisata unggulan NTB.

Optimalisasi Pariwisata Sembalun untuk Dongkrak PAD

Optimalisasi Pariwisata Sembalun untuk Dongkrak PAD

Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lombok Timur terus berupaya menggenjot perolehan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata di sembalun

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer