
LombokPost-Musim kemarau tahun ini membuat hasil panen tanaman sayur petani di daerah Sembalun menjadi tidak maksimal. Bahkan, minimnya pasokan air irigasi mengakibatkan banyak tanaman petani layu dan kering.
“Hampir semua tanaman hortikultura terdampak. Mulai dari bawang putih, wortel, kol, tomat hingga stroberi banyak yang layu dan mati karena kurangnya pasokan air,” terang salah seorang petani sayur di Sembalun, Julaiman, Jumat (23/10).
Bahkan, kata dia, sebagian petani saat ini memilih mengosongkan lahannya sambil menunggu hujan turun untuk kembali bercocok tanam. Selain petani yang mengandalkan irigasi, petani yang memanfaatkan sumur bor juga ikut mengalami keterbatasan air. Mengingat satu sumur bor dimanfaatkan minimal 10 orang petani dan tidak semua lahan bisa terairi.
“Memang ada petani yang juga menggunakan sumur bor. Tapi air sumur bor juga sudah berkurang, sehingga mereka juga menunggu hujan baru bisa bercocok tanam lagi,” jelasnya.
Kata dia, kondisi ini juga mengakibatkan pendapatannya jauh berkurang. Dari satu petak tanaman wortel, sebelumnya dia memperkirakan keuntungan bersih bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Namun, kini dirinya hanya memperoleh keuntungan Rp 3 juta.
Kondisi ini terjadi karena tanaman tidak bisa tumbuh secara optimal akibat cuaca yang terlalu panas. Kemarau tahun ini dinilai sebagai yang terparah dirasakan petani.
“Cuaca tahun ini cukup parah. Hampir seluruh jenis sayur-sayuran yang di sawah maupun di kebun ikut terdampak,” katanya.
Kendati demikian, harga beberapa tanaman hortikultura saat ini justru meningkat. Salah satunya tomat. Harga tomat saat ini berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram di tingkat petani. Pada bulan sebelumnya, harganya masih Rp 3.000 per kilogram.
“Harga memang naik, tapi tanamannya banyak yang mati. Jadi walaupun mahal namun belum bisa mengimbangi kerugian akibat tanaman yang mengering dan hasil panen yang menurun,” tandasnya. (par/r7)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




