
LombokPost-Di Desa Banjar Sari, Lombok Timur berdiri Repok Literasi. Sebuah sekolah yang diinisiasi Muhir untuk menjaga, merawat, dan melestarikan literasi Sasak.
Suara lantang seorang tokoh adat mengalun merdu, memecah kesunyian ruangan sembari membacakan bait demi bait tembang Sasak dari naskah kuno. Makna tiap kata diuraikan perlahan dengan penuh penghayatan, membuat setiap pasang mata dan telinga yang hadir larut seolah ditarik melintasi lorong waktu ke masa silam.
Lantunan kidung tersebut tidak sedang dibawakan dalam pesta pernikahan yang meriah ataupun ritual adat sakral. Suasana khidmat itu hidup di Repok Literasi, Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, tempat sekolah belajar membaca dan menulis aksara Sasak Hanacaraka berdenyut demi menahan laju kepunahan naskah leluhur.
Baca Juga: Kakanwil Kemenkum NTB Dorong Kekayaan Budaya Bayan Dicatat, Jangan Sampai Hilang Ditelan Zaman
Direktur Repok Literasi Muhir memprakarsai kelas ini bersama Guru Lauq Indonesia sejak beberapa pekan lalu. Keresahan mendalam menyelimuti hatinya tatkala menyaksikan warisan budaya naskah Sasak perlahan terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.
"Peluncur program belajar aksara ini berangkat dari kegelisahan kami dengan Guru Lauq Indonesia. Akan hilangnya budaya Sasak di tanah Lombok sendiri," ujar pria yang akrab disapa Guru Muhir itu pada Senin (26/10).
Kegelisahan itu kian nyata setiap kali menjelang perhelatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di Lombok Timur. Banyak guru datang terburu-buru membawa murid mereka demi kursus kilat nembang, pola instan yang dinilai tidak memberi ruang pemahaman mendalam bagi para peserta didik.
Baca Juga: Lestarikan Warisan Leluhur, SMAN 9 Mataram dan Majelis Adat Sasak Perkuat Literasi Aksara Sasak
Selain itu, Muhir menyoroti maraknya pengakuan sepihak dari pihak-pihak yang melabeli diri sebagai ahli aksara, namun kerap melantunkan tembang di luar pakem dan cengkok tradisi. Kondisi ini diperparah oleh minimnya tenaga pengajar kompeten yang mampu membimbing aksara Sasak sejak bangku sekolah dasar.
"Kemudian kegelisahan kami yang lainnya ialah minimnya SDM yang bisa memberikan pembelajaran terkait aksara Sasak maupun nembang di sekolah, terutama di tingkat dasar," tutur Muhir.
Bagi Muhir, pelatihan guru yang berlangsung sekejap dikhawatirkan memicu kekeliruan berantai kepada para murid di kelas. Repok Literasi memilih jalan sunyi dengan memprioritaskan pelatihan guru terlebih dahulu agar mereka memiliki kecakapan utuh sebelum menyebarkan ilmunya ke ruang-ruang kelas formal.
Baca Juga: Puluhan Regu Paskibra Unjuk Ketangkasan, LKBB Aksara SMAN 4 Mataram Ajang Disiplin dan Kreativitas
"Murid atau peserta yang mengikuti program ini sebagian besar adalah seorang guru. Hanya beberapa yang mahasiswa. Sebenarnya banyak yang tertarik untuk ikut, cuma kami batasi sampai 25 orang," ucapnya menambahkan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




