
LombokPost-Puluhan mahasiswa Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar aksi di simpang empat Taman Rinjani Selong, Kamis (5/11) sore. Salah satu isu yang mereka suarakan adalah penolakan terhadap rencana pembangunan geotermal atau energi panas bumi di kawasan Gunung Rinjani.
“Ini memang masih rencana saja, tetapi harus ditolak meskipun masih rencana,” terang Presiden Mahasiswa IAIH Pancor Maryadi.
Maryadi menilai, geotermal tidak pantas berada di Lotim karena akan sangat berdampak terhadap lingkungan. Terlebih, jika dibangun di kaki Gunung Rinjani, sehingga akan merusak kawasan taman nasional.
Baca Juga: Wacana Pemanfaatan Geothermal Rinjani Mengemuka, Dinas ESDM NTB Sebut Belum Pasti
Dia melihat, di beberapa tempat proyek geotermal banyak menimbulkan masalah dan konflik. Mulai dari konflik masyarakat dengan aparat, menimbulkan berbagai penyakit, kerusakan lingkungan, hingga hilangnya sumber mata air masyarakat.
Isu ini menurutnya harus terus dikawal agar proyek tidak sampai dibangun. Menurutnya, jika sudah ada wacana, kemungkinan proyek terealisasi selalu ada. Karena itu, masalah ini harus terus disuarakan dan ditolak hingga betul-betul tidak terealisasi.
“Kalau sudah ada wacana pasti ada tindak lanjutnya. Untuk itu masalah ini harus betul-betul kita kawal dan suarakan bersama,” katanya.
Selain geotermal, mahasiswa juga menuntut Pemkab Lotim untuk lebih serius menangani masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas tambang galian C di Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji, yang bertahun-tahun tidak kunjung diselesaikan.
“Aktivitas galian C di Korleko membuat air irigasi pertanian warga tercemar, tanaman petani banyak yang mati. Sehingga hasil pertanian dan perkebunan warga turun drastis,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





