Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Misi Bawa Tenun Pringgasela Mendunia, Alunan Budaya ke 8 Siap Digelar

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 10 Juli 2024 | 13:10 WIB
KARNAVAL: Karya tenun Pringgasela dihadirkan saat acara Alunan Budaya Desa Pringgasela ke-7, yang digelar pada Tahun 2023. (FERRIAWAN UNTUK LOMBOK POST)
KARNAVAL: Karya tenun Pringgasela dihadirkan saat acara Alunan Budaya Desa Pringgasela ke-7, yang digelar pada Tahun 2023. (FERRIAWAN UNTUK LOMBOK POST)

LombokPost-Alunan Budaya Desa Pringgasela bakal digelar kembali pada 13-20 Juli.

Event yang ke 8 ini akan mengangkat tema Benang Merah yang dikonsep dengan acara karnaval tenun.

”Alunan budaya desa ini sudah masuk pada program karisma Event Nusantara (KEN) 2024. Ini alunan budaya pertama yang dilakukan setelah masuk dalam KEN,” terang Ketua Panitia Alunan Budaya Desa Pringgasela Ferriawan saat ditemui di Pringgasela, Selasa (9/7).

Masyarakat Pringgasela dan para pelaku tenun selalu menunggu Alunan Budaya.

Event ini memberikan dampak besar terhadap pemasaran tenun dan permintaan pasar yang semakin besar, sejak pertama kali digelar.

Pada Alunan Budaya Desa ke-7 tahun lalu, perputaran uang di masyarakat mencapai Rp 3,3 miliar selama acara berlangsung.

Ditargetkan perputaran uang di event yang ke-8 bisa lebih tinggi.

”Kami berharap Pringgasela Raya menjadi kiblat fashion tenun di Nusantara. Pada alunan budaya ke-7 tahun lalu kami melibatkan sebanyak seribu penenun, tahun ini mudah-mudahan bisa lebih,” terangnya.

Ferri mengatakan, karnaval tenun ini sebelumnya tidak pernah dilakukan pada event serupa. Bahkan karnaval ini akan menjadi karnaval pertama di Indonesia pascapandemi covid. Sehingga ditargetkan pengunjung yang akan datang mencapai 30 ribu pengunjung. 

Mengenai tema, dijelaskan Ferri bahwa Benang Merah pada Alunan Budaya ke-8 ini bukan sekadar warna pada benang.

Namun bagi masyarakat Pringgasela Raya, benang merah melambangkan tenun sebagai tradisi turun-temurun yang telah menyatu dengan masyarakat. Selama berabad-abad.

”Tenun ini bagaikan darah yang mengalir dalam tubuh dan jiwa masyarakat, mengikat mereka dalam satu kesatuan budaya yang erat,” imbuhnya.

Ferri mengatakan, Alunan Budaya Desa sebagai cara menunjukkan kepada dunia betapa pentingnya tenun bagi masyarakat Pringgasela.

Tenun bukan hanya sebuah kain, tetapi juga simbol identitas, tradisi, dan nilai-nilai budaya yang dipegang teguh.

”Melalui Alunan Budaya ini kami juga ingin tenun Pringgasela bisa lebih mendunia. Dan memberikan efek bagi masyarakat,” tandasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Lotim Widayat menambahkan, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap event Alunan Budaya.

Selain dalam bentuk dana, Dispar juga telah berkoordinasi dengan sejumlah OPD untuk menyukseskan acara tersebut.

”Karena ini merupakan Alunan Budaya pertama yang masuk di KEN maka InsyaAllah tahun depan kita anggarkan melalui APBD,” ungkapnya.

Alunan Budaya Desa memberi dampak besar bagi masyarakat. Salah satunya penenun. Sebelum ada event tersebut, banyak penenun menggantungkan alatnya. Namun, Alunan Budaya Desa membuat pekerjaan ini kembali menggeliat.

Terlebih, saat ini Pemkab Lotim telah membuat kebijakan terkait penggunaan kain tenun Lombok sebagai salah satu seragam dinas di Lotim. Hal ini akan berdampak terhadap para penenun di Lombok, khususnya di Pringgasela.

Selain itu, efek alunan budaya ini juga berdampak terhadap meningkatkannya angka kunjungan wisatawan di Lotim.

Tidak hanya dari dalam negeri namun juga tamu luar negeri. Alunan budaya ini akan berdampak baik terhadap pengembangan pariwisata Lotim.

”Dampaknya sangat banyak, tidak hanya dari sisi wisatanya namun juga ekonominya. Seperti UMKM kita bisa hidup,” tutupnya. (par/r11)

 

Editor : Kimda Farida
#budaya #Lotim