Lombok Post - Universitas Gunung Rinjani (UGR) kembali mencatat tonggak penting dalam perjalanan akademiknya melalui pelaksanaan Wisuda Sarjana XXIV yang digelar di Ballroom Hotel Lombok Raya, Mataram, Sabtu (15/11).
Sebanyak 206 wisudawan dari enam fakultas dan tujuh program studi resmi dikukuhkan sebagai sarjana baru oleh Rektor UGR, Dr. Basri Mulyani, SH., MH.
Acara wisuda turut dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, Kepala LLDikti Wilayah VIII Bali–NTB atau pejabat yang mewakili, pengurus Yayasan Pendidikan Gunung Rinjani Lombok, Dewan Penyantun, Senat Akademik, para dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua para wisudawan.
Dalam pidatonya, Rektor Basri membuka sambutannya dengan rasa syukur atas terselenggaranya acara yang dinilainya sangat penting bagi keluarga besar UGR tersebut. Ia menegaskan bahwa gelar yang diraih para wisudawan bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga amanah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Rektor Basri secara khusus menyoroti perjalanan panjang dan penuh perjuangan yang telah ditempuh para mahasiswa hingga mencapai hari wisuda. Banyak di antara mereka, ujarnya, yang menempuh pendidikan dengan keterbatasan finansial namun tetap bertahan dengan kerja keras, kedisiplinan, dan doa orang tua.
“Saya selalu ingatkan kepada para dosen: tidak boleh ada mahasiswa putus kuliah hanya karena ketidakmampuan finansial. Pada dasarnya tidak ada mahasiswa yang bodoh, kecuali mereka yang malas,” tegasnya.
Baca Juga: Efek Fiskal Terbatas, Pemprov NTB Fokus Pemeliharaan Infrastruktur 2026
Memasuki fase baru setelah wisuda, Rektor Basri mengingatkan bahwa para sarjana tidak lagi berada dalam lingkungan penuh privilege seperti ketika menjadi mahasiswa. Di dunia kerja, setiap keputusan dan tindakan memiliki konsekuensi nyata dan dapat berdampak luas.
Ia juga menekankan pentingnya karakter, integritas, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi era VUCA—Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity—yang ditandai oleh perubahan cepat dan ketidakpastian.
“Apa yang Anda pelajari hari ini bukanlah akhir, melainkan modal dasar untuk terus belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Di hadapan para wisudawan yang duduk dengan bangga mengenakan toga, Rektor Basri menyampaikan tujuh pesan penting sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah kampus. Di antaranya: tidak melupakan jasa para dosen, menjaga kerendahan hati, memperkuat jaringan pertemanan, menjunjung etika dan integritas, serta terus berkembang tanpa henti.
Ia juga mengingatkan bahwa kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu berbagi dan memberi manfaat bagi sesama. Mengutip Jean-Paul Sartre, ia menegaskan bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh pilihan dan tindakan yang ia ambil sepanjang hidupnya.
Tak lupa, Rektor Basri memberikan motivasi agar para wisudawan tidak mudah patah semangat ketika menemui kegagalan. “Failure is success in progress,” kutipnya dari Albert Einstein.
Mengakhiri pidatonya, ia kembali mengutip pesan Bung Karno tentang pentingnya bermimpi setinggi langit. Menurutnya, kegagalan sekalipun tetap akan menempatkan seseorang pada posisi yang lebih baik daripada mereka yang tak berani bermimpi.
Acara ditutup dengan pantun yang disambut tepuk tangan meriah para hadirin. Suasana haru dan bangga terasa mengisi ballroom, menandai langkah baru 206 sarjana UGR dalam membangun masa depan mereka masing-masing.
“Selamat jalan, selamat berkarya, dan selamat membangun masa depan lebih baik,” tutup Rektor Basri.
Editor : Rury Anjas Andita