Lombokpost - Wacana penerapan lima hari sekolah di Lombok Timur (Lotim) belum bisa diterapkan dalam waktu dekat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim menilai kebijakan tersebut masih membutuhkan kajian mendalam karena kondisi geografis dan sosial masyarakat yang didominasi wilayah pedesaan.
"Untuk bisa sekolah lima hari itu, kita perlu kajian. Karena kita ini (Lotim) bukan daerah perkotaan," terang Kepala Dinas Dikbud Lotim M Nurul Wathoni, Selasa (10/3).
Sekolah lima hari dan libur dua hari menurutnya justru akan menyulitkan pengawasan. Terutama pengawasan terhadap anak-anak di pedesaan yang tidak akan maksimal karena memiliki waktu luang lebih panjang di luar sekolah.
"Kalau dua hari tidak sekolah, kita yang akan kerepotan. Karena pengawasan kita di desa itu masih kurang maksimal. Jadi butuh kajian dan konsultasi dulu," jelasnya.
Selain masalah pengawasan, ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat desa yang masih erat dengan kultur agraris. Anak-anak pedesaan biasanya membantu pekerjaan rumah atau kegiatan lain saat libur sekolah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi hak anak untuk belajar.
Dengan sistem enam hari sekolah, aktivitas tersebut tetap bisa berjalan tanpa mengurangi hak belajar anak. Menurutnya hari Sabtu bisa dimanfaatkan sekolah untuk kegiatan Sabtu kreasi atau kegiatan ekstrakurikuler.
"Di hari Sabtu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan ekstra atau kreasi yang bisa meningkatkan kreativitas siswa," jelasnya.
Ia menyebut sejauh ini permintaan program lima hari sekolah sudah masuk ke Dikbud Lotim dari beberapa orang tua, khususnya di daerah perkotaan. Namun hal itu tetap harus dikaji dengan melihat dampak yang akan ditimbulkan.
"Kalau hasil kajian kita nanti bagus untuk pembelajaran, apa salahnya. Tapi saat ini kami masih memandang bahwa enam hari lebih efektif," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SDN 2 Batuyang Zohrah mengatakan wacana ini pernah dibahas pihak sekolah bersama wali murid, komite, dan guru. Hasilnya masyarakat lebih setuju sekolah tetap enam hari.
"Kesimpulan dari pertemuan itu masyarakat lebih setuju tetap enam hari. Sekarang kan anak-anak pulang jam 12.30 Wita, sehingga anak-anak bisa istirahat. Karena kalau lima hari kan anak-anak sekolah sampai sore, kecuali kelas satu," jelasnya.
Selain itu, alasan masyarakat tidak setuju sekolah lima hari karena banyak anak mengaji pada pukul 14.30 sampai 17.00 Wita. Anak-anak juga banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.
Editor : Marthadi