LombokPost – Nama Janice Tjen kini resmi menjadi sorotan menjelang Australian Open 2026, ajang yang sudah dua dekade lebih dikenal sebagai Grand Slam Asia-Pasifik. Kebangkitan tenis Asia tahun ini kian terasa, namun tak ada yang memicu perhatian publik Indonesia sebesar kemunculan Janice Tjen, bintang muda yang disebut sebagai petenis Indonesia dengan performa terbaik dalam lebih dari 20 tahun.
Di tengah dominasi para superstar Asia seperti Naomi Osaka, Zheng Qinwen, hingga ikon Filipina Alexandra Eala, kehadiran Janice Tjen di babak utama AO 2026 menjadi babak baru bagi tenis Indonesia. Inilah momentum yang membuat Australian Open 2026 semakin kuat memantapkan identitasnya sebagai Grand Slam Asia-Pasifik.
Nama Janice Tjen disebut bersama Osaka, Zheng, dan Eala sebagai bagian dari pemain Asia yang akan tampil di Melbourne Park bersama para pemenang Play-off Wildcard Asia-Pasifik Australian Open minggu ini di Chengdu. Komposisi tersebut mempertegas betapa besar daya tarik Asia pada Australian Open 2026.
Janice Tjen dalam Peta Besar Tenis Asia-Pasifik
Dari negara dengan populasi gabungan ratusan juta penggemar olahraga, tokoh-tokoh seperti Osaka, Zheng, Eala, dan kini Janice Tjen menjadi motor penggerak peningkatan penonton AO dalam satu dekade terakhir.
Janice Tjen, yang kini berada di peringkat 53 dunia, sering disebut bermain dengan gaya yang mengingatkan pada juara Australia Open 2022 Ash Barty. Narasi ini makin memperkuat posisinya sebagai rising star yang akan memikat penonton Asia, terutama Indonesia, di Australian Open 2026.
Janice Tjen bersama Eala tidak berkompetisi di babak utama pada 2025, sehingga debut mereka Januari nanti—ditambah kebangkitan Osaka dan kembalinya Zheng—diprediksi menciptakan atmosfer paling meriah dalam sejarah Grand Slam Asia-Pasifik.
Ledakan Tenis Asia, dari Jepang hingga Tiongkok
Fenomena Australian Open 2026 bukan hanya tentang Janice Tjen, tetapi juga tentang sinergi besar tenis Asia. Di Jepang, Shintaro Mochizuki siap tampil bersama Osaka di Piala United. Tiga bintang Tiongkok – Zhang Zhizhen, Shang Juncheng, dan Wu Yibing – menunjukkan kebangkitan pasca cedera, mendukung meroketnya popularitas tenis Asia.
Bu Yunchaokete, yang disebut sebagai pemain nomor 1 Tiongkok, akan bersaing memperebutkan wildcard di Chengdu bersama Wu. Kehadiran atlet kursi roda elite seperti Tokito Oda dan Yui Kamiji semakin mempertegas kehadiran Asia di AO 2026.
Tak hanya itu, Jepang terus menjadi pasar siaran terbesar kelima Australian Open. WOWOW telah menyiarkan turnamen ini sejak 1992, dengan lonjakan penonton hingga 20 juta pada final Osaka vs Kvitova tahun 2019.
Dominasi Tiongkok: Dari Li Na hingga Zheng Qinwen
Ledakan tenis Tiongkok telah berlangsung sejak Li Na mencapai final Australian Open 2011 dan juara pada 2014. Estafet bintang kini dipegang Zheng Qinwen, finalis AO 2024 dan peraih emas Olimpiade Paris 2024.
“Ada 25 juta penggemar tenis di Tiongkok. Hampir satu dari setiap 50 orang di Tiongkok adalah penggemar berat tenis,” ujar Roddy Campbell, Direktur Kemitraan dan Bisnis Internasional Tennis Australia.
Platform seperti Weibo dan Xiaohongshu memperlihatkan gairah fanbase muda yang luar biasa. Fenomena ini ikut mengangkat pamor pemain Asia lainnya—termasuk Janice Tjen—di Australian Open 2026.
Gelombang Baru Asia-Pasifik dan Posisi Janice Tjen
Kebangkitan bintang muda Asia kini semakin lengkap setelah Alexandra Eala menembus 50 besar dan memicu euforia di Filipina dan diaspora globalnya.
Namun perhatian Indonesia kini tertuju pada Janice Tjen, yang disebut sebagai sosok paling fenomenal dalam dua dekade terakhir. Kemunculan Janice Tjen dan Eala pada Januari 2026—bersama Osaka dan Zheng—diproyeksikan memicu salah satu tingkat engagement tertinggi dalam sejarah Australian Open 2026 di kawasan Asia-Pasifik.