LombokPost-Nama Mandalika kembali menggema di panggung internasional. Mandalika Grand Prix Association (MGPA) resmi menghadiri FIM Commission of Circuit Racing (CCR) Superlicence Seminar Meeting yang digelar Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) di Lyon, Prancis, pada 5–8 Februari lalu.
Forum ini merupakan level tertinggi dalam tata kelola balap motor dunia, menjadi rujukan global untuk regulasi, keselamatan, dan pengambilan keputusan MotoGP.
Kehadiran MGPA untuk tahun kedua berturut-turut menegaskan posisi Indonesia tidak lagi sekadar sebagai tuan rumah MotoGP, tetapi telah masuk ke dalam lingkaran strategis pengambil kebijakan motorsport dunia.
Undangan resmi FIM dan Fédération Française de Motocyclisme (FFM) ini mengundang langsung jajaran inti MGPA, yakni Direktur Utama MGPA Priandhi Satria, Advisor Eddy Saputra, VP Motorsport Donny Mahardjono, serta Track, Race Electronic, and Motorsport Manager Muhammad Awallutfi Andhika Putra.
Selama berada di Lyon, delegasi MGPA mengikuti rangkaian seminar intensif, diskusi kelompok terfokus, pembahasan silabus regulasi terbaru, hingga ujian tertulis berbasis studi kasus.
Seluruh proses tersebut menjadi syarat wajib untuk perpanjangan FIM Superlicence kategori Commission of Circuit Racing (CCR), lisensi tertinggi yang menjadi kunci pengelolaan ajang MotoGP.
Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, menegaskan bahwa kehadiran MGPA di forum ini memiliki arti strategis bagi Indonesia.
“Undangan dari FIM ini menunjukkan Mandalika dan Indonesia tidak hanya dipandang sebagai penyelenggara event, tetapi sudah menjadi bagian dari diskusi strategis motorsport dunia,” ujarnya, Minggu (8/2).
Berdasarkan data resmi FIM per 2 Desember 2025, Indonesia memiliki 17 pemegang FIM Licence di berbagai kategori, dan empat di antaranya adalah Superlicence dari MGPA. Antara lain, Priandhi Satria, Eddy Saputra, Donny Mahardjono, dan Muhammad Awallutfi Andhika Putra.
Lisensi ini menempatkan pemegangnya pada posisi krusial sebagai Clerk of the Course (CoC) dan Sporting Steward, figur kunci dalam pengambilan keputusan balap di lintasan. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah motorsport nasional.
Jika sebelumnya MotoGP Mandalika masih mengandalkan ofisial asing, kini perangkat kontrol utama sudah 100 persen ditangani SDM Indonesia, bahkan melibatkan putra daerah NTB.
Priandhi Satria menegaskan, kepemilikan Superlicence bukan sekadar simbol prestise, tetapi fondasi jangka panjang bagi masa depan motorsport Indonesia.
“Kami ingin Mandalika bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi menjadi bagian dari sistem dan penentu standar balap dunia. Ini bukti Indonesia mampu dan dipercaya,” pungkasnya.
Muhammad Awallutfi Andhika Putra menjelaskan, FIM Licence merupakan sertifikasi kompetensi resmi yang berlaku secara internasional.
Dengan Superlicence ini, pemegang lisensi bisa memimpin dan bertugas dalam balap motor yang berada di bawah izin resmi FIM di negara mana pun.
“Untuk MotoGP 2026 dan seterusnya, perangkat kontrol kita sudah aman dan mandiri,” tegas Awallutfi.
Selain itu, forum FIM di Lyon juga dimanfaatkan MGPA untuk memperkenalkan Sirkuit Internasional Mandalika kepada delegasi internasional, sekaligus mempromosikan kalender event 2025 dan 2026.
Hadir dalam seminar tersebut perwakilan negara penyelenggara kejuaraan dunia, promotor Dorna Sports, hingga jajaran steward permanen FIM dan direktur balap MotoGP.
Dengan empat pemegang FIM Superlicence aktif dan sistem yang semakin matang, Indonesia kini berdiri sejajar dengan negara-negara besar penyelenggara motorsport dunia, menjadikan Mandalika bukan sekadar lintasan balap, melainkan pusat pengambilan keputusan balap internasional.
Editor : Jelo Sangaji