
LombokPost - Konsep budaya Bayan selama ini kerap dimaknai berbeda oleh sejumlah pihak. Salah satunya terkait istilah Watu Telu. Di mana istilah ini sering disederhanakan sebagai praktik Salat tiga waktu.
Kepala Desa Bayan Satradi mengatakan, pemaknaan tersebut tidak sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat.
Menurutnya, penyederhanaan makna budaya Bayan seperti itu justru melahirkan pandangan keliru yang dapat melukai hati masyarakat.
“Nyatanya, bukan itu maksudnya. Kami di sini banyak lulusan pesantren dan kami mengamalkan ajaran Islam sebagaimana mestinya,” kata Satradi.
Ia menegaskan, nilai budaya yang berkembang di Bayan tidak lepas dari kehidupan masyarakat yang juga menjalankan ajaran Islam.
Karena itu, pemahaman terhadap tradisi dan budaya Bayan perlu melihat konteks sejarah serta nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, Satradi mengapreasi adanya upaya secara ilmiah mendokumentasikan warisan budaya masyarakat Bayan.
Salah satunya yanh dilakukan mahasiswa KKN-PPM UGM. Dokumentasi tersebut dikemas dalam catatan bertajuk Arsip Ingatan Bayan.
Arsip ini disusun berdasarkan referensi ilmiah, wawancara dengan tokoh adat, diskusi bersama masyarakat, serta observasi lapangan.
Dokumentasi itu salah satunya dimaksudkan untuk meluruskan pemahaman mengenai konsep Wetu Telu.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




