LombokPost - Saat ini, semua orang mengenal Denpasar sebagai jantung dan ibu kota Provinsi Bali.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa Denpasar bukanlah kota yang sejak awal dipersiapkan untuk memegang status Ibu Kota Bali.
Jauh sebelum Denpasar, ada sebuah kota bersejarah yang menjadi pusat pemerintahan di Pulau Bali hingga tahun 1958, yaitu Singaraja.
Kota yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Buleleng ini menyimpan segudang kisah yang mencerminkan kejayaan masa lampau.
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-17 dan ke-18, Singaraja adalah pusat Kerajaan Buleleng, yang didirikan oleh raja berwibawa, I Gusti Anglurah Panji Sakti.
Ia memindahkan ibu kota kerajaan ke tempat yang strategis dan menamainya "Singaraja" sebagai bentuk penghormatan atas kewibawaan dan kesaktiannya yang diibaratkan seekor singa.
Perjalanan Singaraja sebagai Ibu Kota
Setelah pendudukan Belanda pada tahun 1846, Singaraja sempat menjadi ibu kota Keresidenan Bali dan Lombok.
Namun, peran terpentingnya muncul setelah kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1945, Singaraja diresmikan sebagai ibu kota Provinsi Soenda Ketjil, sebuah provinsi yang wilayahnya mencakup tiga provinsi modern saat ini: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Meskipun masa eksistensinya singkat, peran ini menjadi bukti betapa strategis dan pentingnya Singaraja di kawasan Indonesia Timur.
Kisah Kerajaan Buleleng sendiri penuh dengan berbagai gejolak.
Setelah didirikan oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti pada tahun 1660, kerajaan ini sempat dikuasai oleh Kerajaan Mengwi dan kemudian oleh Kerajaan Karangasem.
Kekuasaan Karangasem baru berakhir pada tahun 1849 setelah melemahnya kekuatan mereka, apalagi dengan gempuran dari Belanda.
Perjuangan gigih melawan penjajah pun dilanjutkan oleh sosok terkenal dari Kerajaan Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik.
Warisan Sejarah yang Terjaga
Meskipun kini status ibu kota provinsi telah beralih ke Denpasar, Singaraja tetap mempertahankan posisinya sebagai ibu kota Kabupaten Buleleng.
Warisan sejarahnya pun masih tetal terawat dengan sangat baik.
Perjalanan panjangnya sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan diabadikan dengan lengkap di Museum Soenda Ketjil yang terletak di kota ini.
Dengan luas 27,98 kilometer persegi, Singaraja bukan hanya saksi bisu dari pergolakan sejarah, tetapi juga destinasi yang menawarkan banyak peninggalan bersejarah yang menarik untuk dijelajahi.
Keberadaan benda-benda bersejarah yang terawat dengan baik menjadi daya tarik bagi siapa pun yang ingin memahami jejak masa lalu Bali lebih dalam.***
Editor : Fratama P.