Impian mereka memiliki rumah gendang baru akhirnya terwujud setelah PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menyalurkan bantuan pembangunan Rumah Gendang Gonggor sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya Manggarai, Senin (13/10).
Tua Gendang Gonggor, Stefanus Angkut mengatakan bantuan ini telah lama dinantikan warga.
Rumah gendang, kata dia, merupakan simbol penting dalam kehidupan masyarakat Manggarai, menjadi pusat kegiatan budaya, musyawarah, serta aktivitas sosial masyarakat setempat.
Sebanyak 80 kepala keluarga atau 212 warga akan terlibat dalam setiap kegiatan adat yang digelar di rumah gendang seperti penti, lontoleok, pesta panen, doa, hingga upacara adat lainnya.
“Kami berterima kasih kepada PLN yang sudah membantu dan hadir bersama kami dalam pembangunan rumah gendang ini. Dukungan ini menjadi bukti bahwa PLN peduli terhadap budaya dan kehidupan masyarakat adat,” ujar Stefanus.
Ia menambahkan, keberadaan rumah gendang yang kokoh akan memperkuat ikatan sosial warga sekaligus menjadi sarana pelestarian nilai-nilai luhur warisan leluhur Manggarai yang terus dijaga secara turun-temurun.
Prosesi peletakan batu pertama berlangsung khidmat melalui upacara adat Manggarai. Acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah setempat, serta jajaran manajemen PT PLN (Persero) UIP Nusra.
General Manager PLN UIP Nusra Rizki Aftarianto menjelaskan bahwa pembangunan Rumah Gendang Gonggor merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN.
Program ini menitikberatkan pada pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat identitas masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan.
“PLN berjalan bersama masyarakat, menghormati nilai-nilai adat, dan menjaga keseimbangan dengan budaya yang sudah mengakar kuat. Pembangunan rumah gendang ini adalah bentuk nyata kepedulian PLN terhadap kelestarian warisan budaya Manggarai,” kata Rizki.
Ia menambahkan, ke depan PLN UIP Nusra akan memperluas kolaborasi dengan komunitas adat, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan.
Program sosial berbasis budaya dan kearifan lokal akan terus dikembangkan agar pembangunan energi di NTT memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (*)
Editor : Marthadi