Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

  Menjaga Lisan di Bulan Suci, Menahan Ucapan Jadi Bentuk Jihad Melawan Hawa Nafsu

Lombok Post Online • Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:44 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)

LombokPost - "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. Bukhari)

Alhamdulillah, tidak ada nikmat yang terindah kecuali kita masih berada dalam Islam. Bulan Ramadan adalah bulan penyucian diri, bukan hanya dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah, tetapi juga dari perilaku yang merusak nilai ibadah.

Salah satu aspek paling penting dalam menjaga kualitas puasa adalah menjaga lisan. Dalam Hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan, "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. Bukhari)

Lisan memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan iman dan kemuliaan akhlak. Karena itu, Ramadan hadir sebagai momentum terbaik untuk melatih kehati-hatian dalam berbicara. Puasa tidak hanya menahan perut dari makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dari ucapan yang tidak baik.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa apabila seseorang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan tercela, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum. Pesan ini menunjukkan bahwa ucapan yang buruk dapat menghilangkan nilai spiritual puasa, meskipun secara hukum puasanya tetap sah.

Pembaca yang berbahagia. Ikhtiar Menjaga lisan berarti menjauhi berbagai bentuk ucapan tercela, seperti berbohong, ghibah, fitnah, mencaci maki, dan menyebarkan kebencian. Di bulan Ramadan, dosa-dosa lisan ini menjadi lebih berat karena bertentangan dengan tujuan utama puasa, yaitu membentuk ketakwaan.

Lisan yang tidak terjaga dapat melukai hati orang lain dan merusak hubungan sosial, bahkan ketika pelakunya sedang menjalankan ibadah puasa. Di era digital, tantangan menjaga lisan semakin kompleks.

Ucapan tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari tulisan di media sosial. Komentar kasar, hoaks, ujaran kebencian, dan perdebatan yang tidak sehat adalah bentuk “lisan digital” yang juga perlu dijaga.

Puasa mengajarkan bahwa setiap kata, baik yang diucapkan maupun dituliskan, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Namun, menjaga lisan bukan berarti diam tanpa makna.

Islam menganjurkan agar lisan digunakan untuk kebaikan: berzikir, membaca Alquran, berdoa, menasihati dengan hikmah, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun. Inilah penggunaan lisan yang bernilai ibadah dan mendatangkan pahala, terutama di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Menjaga lisan juga melatih pengendalian emosi. Saat lapar dan lelah, seseorang lebih mudah tersulut amarah. Di sinilah puasa berfungsi sebagai perisai akhlak.

Ketika emosi memuncak, menahan ucapan menjadi bentuk jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah SAW mengajarkan agar orang yang berpuasa mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa,” sebagai pengingat diri untuk tidak larut dalam konflik.

Akhirnya, keberhasilan puasa sangat berkaitan erat dengan kemampuan menjaga lisan. Puasa yang baik akan tercermin dari tutur kata yang lembut, jujur, dan menenangkan. Jika Ramadhan mampu menjadikan lisan kita lebih terjaga, maka ia telah berkontribusi besar dalam penyucian hati dan perbaikan akhlak.

Semoga bulan suci ini melatih kita untuk berbicara seperlunya, berkata yang baik, dan diam dari yang sia-sia, tidak hanya selama Ramadhn, tetapi juga sepanjang kehidupan. Wallohu’lam biishawab. (*)

Editor : Kimda Farida
#media sosial #islam #Ibadah #lisan #tulisan