LombokPost - Menjelang fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) pada Selasa, 3 Maret 2026.
Banyak masyarakat yang bertanya-tanya apakah fenomena ini sama dengan Super Blood Moon yang sempat viral pada tahun 2018 dan 2021.
Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Radjab, menjelaskan bahwa meskipun keduanya sama-sama menampilkan Bulan berwarna merah, terdapat perbedaan mendasar pada posisi orbit Bulan saat fenomena tersebut terjadi.
Mengapa Disebut Blood Moon?
Fachri menjelaskan bahwa sebutan Blood Moon muncul karena adanya hamburan cahaya merah (Hamburan Rayleigh) oleh atmosfer Bumi.
Saat Bulan berada sepenuhnya dalam bayangan umbra Bumi, ia tidak gelap total melainkan tampak berwarna merah tembaga.
Apa Bedanya dengan Fenomena 2018 & 2021?
Perbedaan utama terletak pada jarak antara Bulan dan Bumi.
Gerhana Bulan 2018 & 2021 (Super Blood Moon): Terjadi saat posisi Bulan berada di titik Perigee, yaitu titik terdekat Bulan dengan Bumi dalam orbitnya.
Hal ini membuat Bulan tampak jauh lebih besar dan lebih terang dari biasanya.
Gerhana Bulan 3 Maret 2026: Merupakan Gerhana Bulan Total murni.
Meskipun Bulan akan tampak merah sempurna (Blood Moon), posisinya tidak sedang berada di titik terdekat (Perigee), sehingga ukurannya akan tampak normal namun tetap spektakuler secara visual.
Siklus Langka 18 Tahunan
Fachri juga menambahkan bahwa konfigurasi gerhana yang persis sama dengan 3 Maret 2026 ini baru akan terulang kembali sekitar 18 tahun lagi.
"Periode ulang GBT yang mirip seperti besok itu akan terjadi lagi 18 tahun kemudian," tegasnya.
Editor : Kimda Farida