LombokPost - Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) seringkali dibumbui oleh berbagai mitos yang berkembang di masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Radjab, memberikan klarifikasi tegas untuk meluruskan persepsi publik agar tidak terjadi kepanikan yang tidak perlu.
Dalam sesi diskusi, Fachri menekankan bahwa GBT adalah murni fenomena alamiah astronomis yang posisi dan waktunya dapat diprediksi secara ilmiah, jauh dari kesan mistis atau pertanda buruk.
Bongkar Mitos Populer
Berikut adalah beberapa mitos yang diluruskan oleh pihak BMKG berdasarkan sudut pandang sains.
Raksasa Memakan Bulan: Fachri berkelakar bahwa jika ada raksasa yang memakan bulan saat Ramadan, maka raksasa tersebut sedang tidak berpuasa. Faktanya, hilangnya cahaya bulan hanyalah akibat tertutup bayangan Bumi.
Larangan bagi Ibu Hamil: Mitos yang mengharuskan ibu hamil mengoleskan abu dapur di perut atau bersembunyi di dalam rumah dipastikan tidak memiliki dasar ilmiah.
Gerhana tidak memancarkan radiasi berbahaya bagi janin maupun ibu hamil.
Pertanda Perang & Wafatnya Pemimpin: Warna merah (Blood Moon) bukan simbol pertumpahan darah, melainkan hasil dari fenomena Hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.
Mandi Gerhana agar Cantik: Mandi saat gerhana dipercaya bisa memancarkan karisma.
Fachri menanggapi dengan santai bahwa cantik atau tidaknya seseorang bergantung pada diri masing-masing, bukan karena pengaruh gerhana.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menikmati keindahan fenomena ini sebagai sarana edukasi.
"Ini fenomena alamiah, rutin terjadi, berulang, dan tidak berbahaya," tegas Fachri Radjab.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan, Gerhana Bulan Total akan mencapai puncaknya pada Selasa besok, 3 Maret 2026, sekitar pukul 18.03 WIB.
BMKG mengajak warga untuk melihat fenomena ini sebagai bukti kebesaran alam semesta tanpa perlu merasa takut.
Editor : Kimda Farida