Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Membaca Alquran: Dari Tilawah Menuju Tadabbur, Kualitas Hubungan dengan Alquran Harus Terus Ditingkatkan

Lombok Post Online • Jumat, 6 Maret 2026 | 13:50 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
 

LombokPost - “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan, supaya mereka memperhatikan (mentadaburi) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Sad: 29)

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan Alquran. Pada bulan inilah Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, pembeda antara yang hak dan yang batil.

Karena itu, membaca Alquran menjadi amalan yang sangat dianjurkan di bulan suci ini. Namun, membaca Alquran tidak seharusnya berhenti pada tilawah, melainkan perlu ditingkatkan menuju tadabbur merenungi makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Tilawah adalah membaca Alquran dengan lisan, mengikuti kaidah bacaan yang benar, dan penuh adab. Tilawah memiliki keutamaan besar, karena setiap huruf yang dibaca bernilai pahala.

Namun, tujuan utama Alquran diturunkan bukan hanya untuk dibaca, melainkan untuk dipahami dan diamalkan. Di sinilah pentingnya tadabbur sebagai kelanjutan dari tilawah.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan, supaya mereka memperhatikan (mentadaburi) ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Sad: 29).

Tadabbur berarti merenungkan ayat-ayat Alquran dengan hati dan akal. Ia mengajak pembaca untuk bertanya: apa pesan Allah dalam ayat ini? Bagaimana ayat ini berbicara tentang kehidupan saya?

Dengan tadabbur, Alquran tidak lagi terasa jauh atau abstrak, tetapi hadir dan relevan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat tentang iman, akhlak, dan sosial menjadi cermin untuk menilai dan memperbaiki diri.

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melatih tadabbur. Suasana spiritual yang kuat, hati yang lebih tenang karena puasa, serta berkurangnya kesibukan duniawi menjadikan jiwa lebih siap menerima pesan Ilahi.

Membaca Alquran dengan perlahan, memahami terjemahnya, dan merenungkan kandungannya akan memberikan pengaruh mendalam bagi ketenangan batin dan kualitas iman.

Peralihan dari tilawah menuju tadabbur juga membawa dampak pada perubahan perilaku. Alquran yang ditadabburi akan membimbing seseorang dalam bersikap, berkata, dan bertindak.

Ayat tentang kejujuran menumbuhkan integritas, ayat tentang kesabaran menguatkan keteguhan, dan ayat tentang kepedulian sosial mendorong semangat berbagi. Inilah tanda bahwa Alquran benar-benar hidup dalam diri seorang mukmin.

Namun, tadabbur tidak menuntut pemahaman yang rumit atau mendalam secara akademik. Setiap orang dapat bertadabbur sesuai kapasitasnya.

Dengan membaca terjemah, mendengarkan penjelasan singkat, atau mengaitkan ayat dengan pengalaman hidup, proses tadabbur sudah dimulai. Yang terpenting adalah keterbukaan hati dan kesungguhan untuk belajar dari Alquran.

Akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa hubungan dengan Alquran harus terus ditingkatkan kualitasnya. Tilawah adalah pintu awal, tadabbur adalah jalan pendalaman, dan pengamalan adalah tujuan akhirnya.

Semoga Ramadan menjadikan kita tidak hanya rajin membaca Alquran, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Wallohu’lam Bisshawab. (*)

Editor : Kimda Farida
#kaidah #manusia #bacaan #alquran #tadabbur