LombokPost - “Tiap amalan anak Adam adalah untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan imbalannya.” ( HR.An-Nasa’i)
Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Salah satu tujuan dari penciptaan manusia adalah menjadi khalifah atau pengatur di atas muka bumi ini. Karena itu, untuk bisa mengatur diperlukan sifat kejujuran. Sebab, ia adalah tonggak dari semua kesuksesan.
Momentum bulan puasa kali ini adalah waktu yang tepat untuk mengasah kejujuran seseorang, sebab puasa Ramadan adalah ibadah yang sarat dengan pendidikan moral. Ia tidak hanya membentuk kesalehan personal, tetapi juga menumbuhkan kejujuran dalam ruang publik.
Di tengah berbagai krisis integritas, mulai dari kebohongan, manipulasi, hingga penyalahgunaan Amanah,puasa hadir sebagai sarana pembinaan karakter yang relevan dan mendesak, terutama dalam meneguhkan spirit kejujuran publik. Kejujuran merupakan inti dari puasa.
Puasa adalah ibadah yang sangat bergantung pada kesadaran batin. Tidak ada pengawasan manusia yang dapat memastikan seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya sendiri dan Allah SWT.
Karena itu, Allah SWT dalam hadis qudsi mengingatkan akan hal itu “Tiap amalan anak Adam adalah untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan imbalannya.” ( HR.An-Nasa’i).
Karena itu, puasa melatih kejujuran yang paling hakiki, jujur kepada diri sendiri dan jujur di hadapan Allah. Kejujuran personal inilah yang seharusnya meluas menjadi kejujuran sosial dan publik.
Spirit kejujuran publik tercermin dalam sikap amanah, transparan, dan bertanggung jawab dalam setiap peran sosial. Puasa mengajarkan bahwa menahan diri dari yang halal demi ketaatan kepada Allah seharusnya membuat seseorang lebih mampu menahan diri dari yang haram, termasuk kebohongan dan kecurangan dalam kehidupan bermasyarakat. Puasa membangun kesadaran bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan dimintai pertanggungjawaban.
Pembaca yang budiman. Dalam konteks kehidupan public,baik sebagai pemimpin, pendidik, aparatur, pedagang, maupun warga biasa,kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Tanpa kejujuran, tatanan sosial akan rapuh.
Ramadan mengingatkan bahwa ibadah yang benar harus melahirkan akhlak yang nyata. Jika seseorang rajin berpuasa tetapi masih terbiasa berbohong atau memanipulasi fakta, maka ada yang perlu dikoreksi dalam pemaknaan puasanya.
Puasa juga melatih keberanian moral. Bersikap jujur di ruang publik sering kali tidak mudah, karena berhadapan dengan tekanan, kepentingan, dan godaan.
Puasa mendidik jiwa agar kuat menahan godaan dan berani memilih jalan yang benar, meskipun berat. Spirit ini sangat dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang adil dan berkeadaban.
Selain itu, puasa mengajarkan kejujuran dalam komunikasi publik. Menyampaikan informasi apa adanya, menghindari hoaks, serta tidak memutarbalikkan fakta adalah bagian dari etika sosial yang selaras dengan nilai puasa.
Dalam era informasi yang serba cepat, kejujuran menjadi semakin penting agar ruang publik tidak dipenuhi oleh kebisingan dan kebatilan. Namun, spirit kejujuran publik yang ditanamkan oleh puasa tidak boleh bersifat musiman.
Ramadan adalah momentum latihan intensif, tetapi nilai kejujuran harus terus dirawat sepanjang tahun. Kejujuran yang lahir dari puasa seharusnya menjelma menjadi karakter yang konsisten dalam setiap aspek kehidupan.
Akhirnya, puasa yang berkualitas adalah puasa yang melahirkan integritas. Ketika kejujuran personal bertemu dengan tanggung jawab sosial, maka terbangunlah spirit kejujuran publik yang kokoh.
Semoga Ramadan menjadikan kita pribadi yang jujur, amanah, dan dapat dipercaya, baik di hadapan Allah SWT maupun di tengah masyarakat. Wallohu’lam bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida