LombokPost - “Bahwasanya Rasulullah SAW saat memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”. (HR Bukhari)
Alhamdulillah binikmatihi tatimmussholihat. Tidak terasa kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan. Sebuah pertanyaan penting patut kita ajukan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana puasa kita?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak merenung dan mengevaluasi. Ramadan bukan sekadar tentang berlalunya hari-hari tanpa makan dan minum, tetapi tentang sejauh mana puasa memberi dampak nyata dalam kehidupan kita.
Secara lahiriah, mungkin kita telah menjalankan puasa dengan baik. Kita menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib, menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan melaksanakan ibadah-ibadah Ramadan.
Namun, puasa yang berkualitas tidak berhenti pada aspek fisik. Puasa sejati menyentuh hati, pikiran, dan perilaku.
Sudahkah puasa kita melatih kesabaran? Apakah emosi lebih terjaga, amarah lebih terkendali, dan sikap lebih lembut dibanding sebelum Ramadan?
Puasa seharusnya menjadikan kita lebih tenang dalam menghadapi perbedaan dan ujian hidup. Jika emosi masih mudah meledak, mungkin puasa kita perlu lebih disertai kesadaran dan pengendalian diri.
Sudahkah puasa kita menjaga lisan dan perilaku? Ramadan mengajarkan untuk menjauhi ucapan sia-sia, kebohongan, dan menyakiti orang lain. Jika masih mudah bergunjing, menyebar informasi yang tidak jelas, atau berkata kasar,baik secara langsung maupun di media sosial, maka puasa kita perlu ditingkatkan kualitasnya.
Sudahkah puasa kita mendekatkan diri kepada Alquran? Ramadan adalah bulan Alquran, bulan ketika hati seharusnya lebih akrab dengan firman Allah SWT. Bukan hanya banyaknya bacaan yang penting, tetapi sejauh mana ayat-ayat Alquran kita renungi dan kita jadikan pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Sudahkah puasa kita menumbuhkan kepedulian sosial? Rasa lapar seharusnya melahirkan empati, dan empati seharusnya mendorong kepedulian. Sedekah, berbagi, dan membantu sesama adalah indikator bahwa puasa telah melampaui dimensi personal dan menyentuh dimensi sosial.
Tanpa kepedulian, puasa berisiko kehilangan ruh kemanusiaannya. Evaluasi puasa juga menyentuh soal niat dan konsistensi. Apakah puasa kita dijalani dengan ikhlas karena Allah SWT, atau sekadar mengikuti rutinitas tahunan? Apakah ibadah kita meningkat, atau justru terasa berat dan dipaksakan?
Ramadhan mengajarkan bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas. Pertanyaan “sudah sejauh mana puasa kita?” Sejatinya adalah undangan untuk memperbaiki sisa Ramadhan yang masih ada.
Jika masih ada kekurangan, pintu taubat dan perbaikan masih terbuka lebar. Nabi SAW, ketika berada di dua puluh terakhir Ramadan mulai gelisah, karena beliau takut ditinggal oleh bulan yang mulia itu “Bahwasanya Rasulullah SAW saat memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”. (HR Bukhari).
Ramadan belum berakhir, dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas puasa masih Allah SWT berikan. Semoga, puasa kita tahun ini jauh lebih baik dengan tahun yang lalu dan semakin bermakna, semakin membentuk akhlak, dan semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Karena tujuan akhir puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi menjadi pribadi yang bertakwa. Wallohu’lam bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida