Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menyambut Bulan Haji, Ibadah Haji Bukan Hanya Ritual

Redaksi • Jumat, 17 April 2026 | 11:37 WIB
TGH Muharrar Iqbal
TGH Muharrar Iqbal

LombokPost - “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus.” (QS. Al-Hajj: 27)

Pembaca Lombok Post yang dirahmati Allah SWT. Saat melaksanakan ibadah umrah akhir Ramadan lalu, saya bersama jamaah melihat langsung persiapan proses pelaksanaan ibadah haji.

Tenda-tenda di seputar Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) sudah dibersihkan, ditata dengan rapi dan dilengkapi pendingin untuk kenyamanan jamaah ibadah haji.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Jemaah Haji Mataram Kloter 5 Masuk Asrama 26 April 2026

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan-bulan mulia, yaitu bulan Zulkaidah dan Zulhijah, bulan yang di dalamnya terdapat ibadah agung, yakni ibadah haji.

Menyambut bulan haji bukan sekadar menyambut perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga momentum memperbaiki hati, meluruskan niat, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Alquran, bahwa “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat maksiat, dan berbantah-bantahan di dalam masa haji”. (QS. Al-Baqarah: 197).

Baca Juga: Pendaftaran Haji Berpotensi Mirip War Ticket Konser

Ayat di atas menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya ritual, tetapi juga pendidikan akhlak. Menyambut bulan haji berarti mempersiapkan diri untuk meninggalkan kebiasaan buruk, menjaga lisan, serta menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan.

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus.” (QS. Al-Hajj: 27)

Pembaca Lombok Post yang budiman. Seruan dari Allah SWT ini menunjukkan bahwa haji adalah panggilan suci yang menggerakkan hati setiap mukmin. Tidak semua orang dipanggil, maka bagi yang diberikan kesempatan, itu adalah kemuliaan yang besar. Sedangkan bagi yang belum, hendaknya menumbuhkan kerinduan dan mempersiapkan diri sejak dini.

Baca Juga: Pemerintah Pertimbangkan Dua Opsi Terkait Penyelenggaraan Haji 2026

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas  menunjukkan betapa besar keutamaan haji, yakni pengampunan dosa secara total. Oleh karena itu, menyambut bulan haji harus disertai dengan niat yang ikhlas dan tekad untuk menjaga kesucian diri.

Bahkan bagi yang belum mampu berhaji, Rasulullah SAW memberikan peluang untuk meraih keutamaan besar di bulan Zulhijah. Beliau bersabda: “Tidak ada hari-hari di mana amal salih lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah).” (HR. Bukhari).

Ini menunjukkan bahwa bulan haji adalah musim kebaikan bagi semua umat Islam. Puasa, sedekah, zikir, dan berbagai amal salih lainnya memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.

Akhirnya, marilah kita sambut bulan haji dengan memperbanyak taubat, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah, atau setidaknya mendapatkan limpahan pahala dari keberkahan bulan yang mulia ini. Wallohu’lam Bisshawab. (*)

Editor : Redaksi
#kualitas ibadah #tanah suci #Haji #baitullah #Pengampunan dosa