LombokPost - PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menegaskan pengambilan air Sungai Tiwu Bala untuk mendukung kegiatan pengeboran PLTP Mataloko tidak dilakukan secara terus-menerus. Pemanfaatan air hanya dilakukan sesuai kebutuhan operasional dan telah melalui kajian teknis maupun lingkungan secara komprehensif.
Pengajar sekaligus Advisory Board Program Magister Panas Bumi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ali Ashat menjelaskan air sungai saat ini dimanfaatkan untuk mengisi kolam penampung (water pond) yang digunakan selama proses pengeboran.
Menurut Ali, kebutuhan air untuk pengeboran tidak berlangsung selama 24 jam setiap hari. Pengambilan air hanya dilakukan ketika volume air di kolam penampung berkurang. Sementara itu, sumber utama pengisian water pond berasal dari air hujan dan air hasil sirkulasi selama proses pengeboran.
"Pemanfaatan air sungai ini hanya untuk mendukung kegiatan pengeboran. Yang paling penting adalah dilakukan monitoring secara berkala dan sosialisasi yang berkesinambungan kepada masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, tambahan kebutuhan air dalam jumlah besar hanya diperlukan ketika pengeboran mencapai lapisan reservoir atau terjadi kondisi total loss. Kondisi tersebut bersifat sementara dan hanya berlangsung pada tahapan tertentu.
"Dalam kondisi normal, kebutuhan air di lapangan sangat kecil dan sebagian besar hanya digunakan untuk mendukung aktivitas operasional pekerja. Karena itu, pemanfaatan air sungai untuk pengeboran bersifat sementara dan bukan kebutuhan permanen," jelasnya.
PLN juga memastikan pemanfaatan air Sungai Tiwu Bala telah mengantongi Izin Pengusahaan Sumber Daya Air dari Kementerian Pekerjaan Umum. Izin tersebut menjadi dasar pelaksanaan pengambilan air sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan sekaligus memastikan pengelolaan sumber daya air tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Baru 24 Persen Pekerja NTB Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, DPR RI Dorong Perluasan Kepesertaan
Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko Adrys Silaban mengatakan PLN telah menyiapkan empat kolam penampung untuk mendukung kegiatan pengeboran.
Masing-masing water pond memiliki kapasitas rata-rata sekitar 4.840 meter kubik. Air dari Sungai Tiwu Bala digunakan untuk mengisi kolam tersebut sebelum pengeboran dimulai, kemudian dimanfaatkan secara sirkulatif selama proses pengeboran berlangsung.
"Penambahan pasokan air dari sungai hanya dilakukan apabila volume kolam berkurang. Dengan demikian, pengambilan air tidak dilakukan secara terus-menerus dan hanya bersifat sementara selama tahapan pengeboran," katanya.
Ia menambahkan, sebagian kebutuhan air di water pond saat ini juga telah terpenuhi secara alami melalui air hujan yang tertampung. Hal itu menunjukkan pengambilan air dari sungai dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan operasional.
Baca Juga: Cabor Aerosport Mulai Bagikan Medali Emas Pertama di Porprov XII NTB 2026
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra RDW Manurung menegaskan seluruh tahapan pengembangan PLTP Mataloko mengedepankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat.
"Kami memastikan pemanfaatan air dilakukan berdasarkan hasil kajian teknis dan lingkungan yang memadai serta senantiasa mengedepankan aspek keberlanjutan. PLN juga berkomitmen untuk terus melibatkan masyarakat dalam proses monitoring dan membuka ruang komunikasi secara terbuka," ujarnya.
Menurut Manurung, pengembangan PLTP Mataloko menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan bauran energi baru terbarukan di Pulau Flores sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Editor : Marthadi