LombokPost - Kembali ke setelan pabrik, AC Milan lemah melawan tim papan bawah.
Ungkapan ini agaknya tepat disematkan pada AC Milan setelah kekalahan atas Parma, terlepas dari proses terjadinya gol yang kontroversi.
Mungkin AC Milan perlu berani menurunkan bereksperimen dengan formasi yang ada, 3-5-2 yang selama ini dipakai tak boleh disakralkan tanpa bisa diganti.
Menggunakan opsi 3 striker dapat dicoba AC Milan, mengembalikan Rafael Leao ke posisi sayap serang juga bukanlah hal yang tabu.
Kini, pola AC Milan sudah sangat terbaca, dan ketika lawan menerapkan taktik bertahan total, tim tampak panik karena seolah tak berkutik.
Dalam enam pertandingan terakhir mereka di San Siro, AC Milan mengalahkan Verona dan Lecce, bermain imbang dengan Sassuolo, Genoa dan Como, serta kalah dari Parma.
Ini bukanlah performa yang menjanjikan untuk sebuah tim yang tengah berjuang di papan atas klasemen Serie A semisal AC Milan.
Saat melawan Parma, AC Milan mencatatkan 64 persen penguasaan bola, 25 tembakan tetapi mereka tidak beruntung, juga tidak klinis.
Kekalahan AC Milan ini membuat sejarah terulang kembali, Parma yang mengakhiri rekor tak terkalahkan mereka, sama seperti yang terjadi pada 21 Maret 1993.
Hampir tidak ada yang bisa diselamatkan di antara para pemain Rossoneri.
Ketika tidak ada rencana permainan yang jelas dan bola bergerak lambat dan horizontal, hanya kehebatan individu yang dapat mengubah keadaan AC Milan.
Tetapi bahkan pemain individu pun bisa mengecewakan, dan kini hasil AC Milan vs Parma jadi bukti. (yuk/r6)