Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Donald Trump Melunak, Tunda Ultimatum Serangan ke Pembangkit Listrik Iran

Redaksi Lombok Post • Selasa, 24 Maret 2026 | 08:36 WIB

Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump.
Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump.
LombokPost – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menarik mundur ultimatum 48 jam untuk menyerang instalasi pembangkit listrik di Iran. Langkah ini diambil setelah Republik Islam Iran memperingatkan akan melakukan aksi balasan terhadap seluruh fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.

Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengeklaim adanya perkembangan positif dalam komunikasi antara Washington dan Teheran guna meredakan konflik.

Donald Trump menyatakan telah menginstruksikan pihak Pentagon untuk menangguhkan rencana serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari kedepan. Penundaan ini, menurutnya, bergantung pada proses negosiasi yang sedang berjalan.

"I telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung," ujar Trump dalam pernyataannya.

Sebelumnya, Trump sempat melayangkan ancaman keras akan menyerang titik-titik vital Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.

 Baca Juga: Donald Trump Blak-blakan Bandingkan Serangan Iran dengan Tragedi Pearl Harbor di Depan PM Jepang, Ada Apa?

Teheran Bantah Adanya Kontak Resmi

Meski Trump mengeklaim adanya "percakapan yang sangat baik dan konstruktif", pihak Teheran memberikan keterangan yang berbeda. Sebuah sumber internal di Iran menyebut bahwa hingga saat ini belum ada jalur komunikasi resmi yang dibuka antara kedua negara.

Sumber anonim tersebut menyatakan kepada kantor berita Tasnim bahwa pesan-pesan yang masuk selama ini hanya melalui perantara mediator, dan posisi Iran tetap tegas untuk melakukan pembelaan diri.

“Sejak awal perang hingga hari ini, pesan telah dikirim ke Teheran oleh beberapa mediator, dan tanggapan yang jelas adalah bahwa kami akan terus membela diri sampai kami mencapai pencegahan yang diperlukan,” tutur sumber tersebut.

 Baca Juga: PM Australia Kecam Pernyataan Donald Trump Terkait Peran Pasukan Sekutu di Afganistan

Dugaan Perang Psikologis dan Stabilisasi Pasar

Pihak Iran menilai pernyataan Trump mengenai dialog tersebut hanyalah bagian dari strategi perang psikologis. Langkah ini dianggap bertujuan untuk menenangkan pasar energi global yang sedang bergejolak serta mengulur waktu bagi AS untuk mematangkan rencana militernya.

“Dengan jenis perang psikologis ini, Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang dan ketenangan di pasar energi juga tidak akan kembali,” tambah sang sumber.

Ketegangan di kawasan ini diketahui meningkat sejak 28 Februari 2026, menyusul serangkaian agresi udara yang melibatkan AS dan Israel terhadap wilayah Iran. Sebagai respons, Iran telah meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di kawasan regional.

Pemerintah Iran menegaskan akan terus melakukan upaya pembelaan negara secara luas selama ancaman terhadap kedaulatan mereka masih terus berlanjut.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Israel #iran #Donald Trump